Omset Pedagang Baju Muslim Naik 100 Persen – Harian Terbit

20140724 103857 pedagang pakaian Omset Pedagang Baju Muslim Naik 100 Persen   Harian Terbit


Jakarta, HanTer – Omset bisnis busana muslim di Jakarta, khususnya di Pusat Perbelanjaan Thamrin City naik signifikan. Peningkatannya bahkan mencapai 100 persen menjelang Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriah.


Ditemui di Thamrin City, Lela, pemilik toko Fafifa mengatakan, peningkatan transaksi perdagangan busana muslim di tokonya sangat signfikan. Setiap hari, kata dia, tokonya ramai dikunjungi pembeli yang datang dari Jakarta maupun luar Jakarta.


“Dibandingkan perdagangan di Bulan Ramadhan tahun lalu, sekarang ini jauh lebih ramai dan meningkat secara signifikan mencapai 100 persen,” ujar Lela, Rabu (23/7).


Selama Bulan Ramadhan tahun ini, ungkapnya, omset penjualan meningkat antara Rp50 juta hingga Rp 100 juta per hari.


“Hari-hari biasa omset paling bagus antara Rp 10 juta hingga Rp 20 juta,” ungkapnya.


Ragam fasilitas dan lokasi yang strategis, kata Lela, menambah ramai pengunjung yang berbelanja busana muslim untuk keperluan lebaran di Thamrin City.


“Banyak pembeli yang sebelumnya berbelanja ke Tanah Abang kini lebih memilih berbelanja di Thamrin City, karena mungkin mudah dijangkau dan lebih nyaman,” katanya.


Peningkatan penjualan busana muslin di bulan Ramadhan ini juga diakui Neeta, pemilik toko Neeta di Lantai dasar Thamrin City. Dia menuturkan, perdagangan selama Ramadhan meningkat 100 perse dibandingkan hari- hari biasa.


“Penjualan busana muslim Ramadhan ini lebih meningkat dari tahun sebelumnya, dengan omset antara Rp45 juta hingga Rp100 juta rupiah,” ujarnya.


Harga busana muslim dan baju gamis yang dijual antara Rp300ribu hingga Rp450 ribu, dan juga melayani penjualan secara grosir.


“Penjualan grosir untuk luar kota dan luar negeri,” ujar Neeta.


Public Relation and Promotion Manager, Lucy Ratna mengatakan, pihaknya terus berupaya memberikan pelayanan dan fasilitas terbaik bagi para pengunjung Thamrin City.


“Di Ramadhan ini kita terus memperbaiki fasilitas dan meningkatkan pelayanan demi kenyamanan dan keamanan berbelanja di Thamrin City,” ujarnya. n Naomy

(Naomy)

Source Article from http://www.harianterbit.com/read/2014/07/24/5681/21/21/Omset-Pedagang-Baju-Muslim-Naik-100-Persen

Trend Baju Lebaran 2014 Untuk Pria, Wanita dan Anak-anak – Teknoflas

TeknoFlas.com -  Tinggal menghitung hari hari raya Idul Fitri atau Lebaran, hari kemenangan umat islam akan segera tiba. Biasanya dalam hari raya lebaran, umat islam akan saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan dengan keluarga, kerabat ataupun teman. Dihari raya lebaran, biasanya untuk urusan sandang, banyak trend busana muslim yang muncul. Beberapa model seperti busana muslim gamis, baju muslim batik hingga model lain.

Beberapa artis tanah air telah banyak yang mengaplikasikan trend baju muslim untuk kegiatan sehari-harinya yang salah satunya adalah penyanyi yang menjuarai ajang pencarian bakat, Fatin Sidqia. Nah dibawah ini beberapa trend baju lebaran 2014 baik untuk wanita dan laki-laki. Dibawah ini Trend Baju Lebaran 2014 Untuk Pria, Wanita dan Anak-anak

model baju lebaran keluarga 2014 Trend Baju Lebaran 2014 Untuk Pria, Wanita dan Anak anak   Teknoflas

baju lebaran tahun 2014 model koko Trend Baju Lebaran 2014 Untuk Pria, Wanita dan Anak anak   Teknoflas

model baju gamis lebaran 2014 untuk keluarga Trend Baju Lebaran 2014 Untuk Pria, Wanita dan Anak anak   Teknoflas

trend baju lebaran wanita Trend Baju Lebaran 2014 Untuk Pria, Wanita dan Anak anak   Teknoflas

busana muslim wanita Trend Baju Lebaran 2014 Untuk Pria, Wanita dan Anak anak   Teknoflas

Bila anda ingin mencontoh beberapa model trend baju lebaran diatas untuk anda gunakan untuk nanti dihari raya Idul Fitri agar lebih terlihat modis dan fashionable.

Source Article from http://www.teknoflas.com/18331/trend-baju-lebaran-2014-untuk-pria-wanita-dan-anak-anak.html

Batik ‘Cherrybelle’ model yang paling dicari jelang lebaran – merdeka.com

<!–
POLLING PEMBACA : PARTAI PEMILU | CALON PRESIDEN

–>

Merdeka.com – Penjualan batik menjelang Lebaran Idul Fitri 1435 Hijriah di Kampung Batik Pusat Grosir Bogor (PGB), Kota Bogor, Jawa Barat mengalami peningkatan. Uniknya batik yang dicari bukanlah model batik yang sederhana pada umumnya, salah satu model yang banyak dicari pembeli yakni batik ‘Cherrybelle’.

“Tahun ini model batik yang lagi “in” batik ‘Cherrybelle’, kebanyakan remaja dan ibu-ibu muda menyukai model baju ini,” kata Susi pemilik Toko Batik SS di Kampung Batik Pusat Grosir Bogor, seperti diberitakan Antara, Rabu (23/7).

Susi menjelaskan, batik ‘Cherrybelle’ memang sangat modis, modelnya unik bergaya baju ‘plum’ yang biasa dikenakan oleh para personel “girlband” Indonesia tersebut.

Menurut Susi, harga batik ‘Cherrybelle’ juga cukup terjangkau, tergantung kualitas bahan dan motif batiknya. Seperti batik ‘Cherrybelle’ asal Pekalongan atau Solo dijual paling rendah Rp65.000 per helai.

“Yang agak mahal itu batik dari Jakarta, selain bahannya lebih bagus dari Pekalongan atau Solo, motifnya juga sedikit elegan. Harga dasarnya Rp100.000 per helai,” kata Susi.

Untuk menambah koleksi, batik ‘Cherrybelle’ juga memiliki pasangan batik untuk prianya, dengan motif yang sama. Sehingga bisa dipakai oleh pasangan suami istri.

Susi mengaku, menjelang lebaran penjualan batik di tokonya mengalami peningkatan dibanding hari-hari di bulan biasa. Ia mengalami peningkatan penjualan sampai 10 persen bahkan lebih. Namun, menurut Susi, walaupun ada peningkatan penjualan batik selama Ramadhan, tetapi tidak sebanyak penjualan pakaian harian yang mereka sebut dengan “fashion”.

“Memang ada peningkatan tetapi tidak sebanding dengan pakaian “fashion” itu lebih banyak lagi pembelinya,” ujar Susi.

Susi menambahkan, kebanyakan pembeli batik di tokonya berasal dari keluarga, pasangan suami istri, perorangan atau perusahaan yang memesan sebagai hadiah lebaran.

“Kemarin baru ada yang pesan 25 helai batik khusus pria sebagai bingkisan lebaran, pembeli dari Medan,” katanya.

Batik pria untuk bingkisan lebaran tersebut harganya relatif murah yakni Rp 50.000 dengan kualitas bagus dan motif yang menarik.

Menurutnya, karena harganya murah, banyak orang yang menjadikan batik sebagai bingkisan lebaran. Dan beberapa yang membeli bahkan datang dari luar Pulau Jawa.

Susi telah menyiapkan stok batik jauh hari sebelum Ramadhan, ia membeli batik dari wilayah Pekalongan, Solo dan juga Jakarta.



paging prev content1 Batik Cherrybelle model yang paling dicari jelang lebaran   merdeka.com Batik Cherrybelle model yang paling dicari jelang lebaran   merdeka.com

 Batik Cherrybelle model yang paling dicari jelang lebaran   merdeka.com

paging next content1 Batik Cherrybelle model yang paling dicari jelang lebaran   merdeka.com



Source Article from http://www.merdeka.com/peristiwa/batik-cherrybelle-model-yang-paling-dicari-jelang-lebaran.html

Pilih Mana, Jilbab Ala Hana atau Fatin? – Solopos

Harianjogja.com, JOGJA - Setiap Lebaran, bermunculan gaya baru dalam berhijab atau busana pembatas bagi muslimah, tak terkecuali Lebaran tahun ini. Pada Lebaran 2014 ini, giliran jilbab atau kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada, ala Hana dan Fatin yang tengah digandrungi dan menjadi acuan untuk mengenakan penutup kepala islami untuk perempuan muslim ini.

Dinamakan jilbab Hana karena diambil dari nama karakter yang diperankan oleh Dewi Sandra dalam sebuah sinetron yang ditayangkan di layar kaca. Ciri khas model ini adalah pashmina–salah kaprah atas penyebutan selendang atau kain panjang yang mestinya hanya terbuat dari wol halus asal Kasmir, India–yang dililitkan di sekeliling kepala dan menyisakan satu bagian tergerai baik di sisi kiri maupun kanan wajah.

Sementara gaya jilbab Fatin meniru gaya penyanyi lulusan ajang pencarian bakat, Fatin Shidqia Lubis. Model jilbab ini juga berupa kain panjang siap pakai yang lebih mengandalkan warna-warna cerah seperti yang biasa dibawakan Fatin di panggung. Ciri khas lainnya adalah taburan ornamen baik dari sisa kain maupun aksesori lain yang sengaja ditambahkan.

Pedagang busana muslim di Pasar Beringharjo Jogja, Susi, kepada Harianjogja.com, Selasa (22/7/2014), mengatakan kedua model itu memang tengah menjadi rujukan utama konsumennya. Seperti tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan artis sebagai kiblat mode, kali ini giliran Hana dan Fatin yang tengah naik daun.

“Sebenarnya ada model lainnya, yang model sederhana dan klasik pun masih dicari, tapi yang meminta model Hana dan Fatin sedang banyak,” ujar dia.

Soal warna, motif atau bahan, Susi mengatakan tak ada perbedaan antara model-model yang tengah digemari. Semua warna dan motif hijab bisa diaplikasikan dan tinggal menyesuaikan baju yang sudah ada.

“Tinggal sesuaikan saja dengan bajunya, warna dan bahannya bisa dipilih sesuai selera,” imbuh dia.

Source Article from http://www.solopos.com/2014/07/23/pilih-mana-hijab-ala-hana-atau-fatin-521412

Fenomena Perang Diskon Jelang Lebaran – apa kabar sidimpuan online

Oleh: Suadi.*)

Tingginya tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk dan barang belanjaan terlihat jelang lebaran. Untuk lebih menarik minat pembeli, maka pihak pengusaha berlomba-lomba menawarkan diskon (potongan harga) dan harga promo (promosi) besar-besaran. Ini terlihat lumrah dalam dunia bisnis agar bisa menarik pembeli, untung yang didapat semakin berlipat dan produk terjual habis. Fenomena ini seringkali terjadi dan menunjukkan betapa konsumtifnya masyarakat kita.

Perang diskon dan harga promo tersebut meliputi banyak item produk. Mulai dari baju, celana, tas, sepatu, aksesori, barang pecah belah dan manufaktur hingga produk makanan. Diskon yang dipasang pun beragam. Lain perusahaan, lain pula diskon yang ditawarkan. Mulai dari diskon 15 persen, 20 persen, 30 persen, 50 persen, 70 persen sampai diskon 80 persen. Tidak jarang pula ada diskon unik misalnya diskon 50 persen + 20 persen. Artinya setelah mendapatkan potongan harga (diskon) 50 persen, pembeli kembali dimanjakan dengan diskon susulan sebesar 20 persen.

Tentu saja, para pembeli, terutama kaum hawa yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak gadis tergiur membeli item produk dengan harga diskon. Makhluk hawa terkenal dengan hobi belanja (shopping) dengan harga hemat dan itu didapat dengan jurus menawar barang serta berburu diskon. Maka tidak heran jika terjadi tawar-menawar harga oleh kaum perempuan saat belanja, maka bisa membutuhkan waktu puluhan menit bahkan sampai ngotot. Berbeda dengan kaum laki-laki yang jarang sekali tawar-menawar harga.

Prinsip Hidup Hemat

Menurut salah satu dosen saya dulu, ia menegaskan beda pelit dengan hemat. Antara keduanya terdapat perbedaan. Hemat adalah mengeluarkan/ membelanjakan uang seperlunya, sesuai kebutuhan dan tidak boros atau berlebihan. Sedangkan pelit adalah tidak mau (sulit)  mengeluarkan uang untuk belanja atau membeli keperluan dan kebutuhan sendiri maupun orang lain karena merasa sayang dengan uangnya untuk disimpan (kikir, bakhil).

Nah, di zaman serba harga sembako dan barang kebutuhan mahal, serta zaman mencari duit susah, maka prinsip hidup hemat patut diterapkan. Hidup hemat bukan berarti memakai pakaian compang-camping, lusuh, betambal, makan pas-pasan, tidak ada rekreasi atau sesuatu yang jauh dari kesenangan, tetapi prinsip hidup hemat hiduplah dengan seimbang sesuai kebutuhan dan sesuai kekuatan kantong, tanpa berlebih, boros apalagi sampai menumpuk utang.

Promo dan diskon banyak manfaat dan untungnya terutama membantu meringankan beban kantong untuk belanja. Sudah mafhum di tiap jelang lebaran, tradisi beli baju baru, sepatu baru, bahkan kendaraan baru. Namun, hendaknya yang dibeli sesuai kebutuhan. Jika butuhnya tiga setel pakaian dan satu pasang sepatu, maka yang dibeli tiga stel dan satu pasang. Bila butuhkan empat macam kue lebaran dan dua macam minuman untuk tamu, maka yang dibeli empat macam kue dan dua macam minuman, tanpa berlebih-lebihan dan tidak boros.

Mungkin membeli tiga stel pakaian setahun sekali sebagai ganti sekaligus meregenerasi pakaian-pakaian yang sudah usang dan tidak layak pakai, dan jelang lebaran kesempatan membeli pakaian baru terbantu dengan adanya harga diskon dan promo. Itu salah satu sisi positifnya.

Godaan membeli barang/produk dengan harga diskon dan harga promo memang kuat. Itu terlihat dengan semakin hari pusat perbelanjaan baik pasar tradisional, toko maupun mall dan plaza penuh sesak dengan kedatangan pembeli. Bagi masyarakat, ada baiknya ketika di rumah memikirkan dan membuat list/daftar item produk apa saja yang harus dibeli nantinya di pasar agar tidak tergoda dengan siulan diskon karena banyak kasus tidak jadi membeli sesuatu barang yang amat dibutuhkan karena uangnya sudah terpakai untuk membeli produk dengan label harga diskon dan promo yang menggiurkan.

Lebaran dengan Sederhana

Mari kita rayakan lebaran Idul Fitri dengan penuh kesederhanaan. Tidak berlebih-lebihan dalam soal pakaian, sepatu maupun makanan. Yang terpenting bagaimana merayakan momen, bukan produk apa yang dipakai. Belilah yang cukup dan sekadar kebutuhan. Jangan menjadi masyarakat yang konsumtif dan ikut mempengaruhi harga pasar gara-gara konsumsi yang meningkat tajam.

Meskipun harapan semua pihak perekonomian meningkat dengan naiknya tingkat konsumsi, tetapi bukan berarti kenaikan tersebut menjerumuskan diri ke dalam lembah boros dan berlebih-lebihan. Masih banyak orang yang hidup miskin, pas-pasan dan serba kekurangan yang lebih membutuhkan bantuan dan uluran tangan. ***

Penulis alumnus UMSU Medan.

Sumber: analisadaily.com

Source Article from http://apakabarsidimpuan.com/2014/07/fenomena-perang-diskon-jelang-lebaran/

Kata-kata Bagaikan Cermin Batin – EraBaru EpochTimes

 

bahasa parenting Kata kata Bagaikan Cermin Batin   EraBaru EpochTimesKata-kata yang beradab sama seperti harumnya bunga, mampu membuat suasana hati menjadi senang, siapakah yang tidak berharap dari bibir mungil anak kita mengucapkan serangkaian kalimat yang harum semerbak?

Akan tetapi bagi sebagai orang Utara (Tiongkok), kata-kata dalam dialek yang digunakan sangatlah tidak sesuai dengan cerminan hati. Baik orang dewasa maupun anak-anak selalu berbicara secara terus terang dan blak-blakan dibarengi suara keras dan kasar.

Dalam bahasa Inggris dan Amerika terkandung tata krama di dalam keterus terangannya, dalam bahasa Jepang dan Korea terkandung keanggunan di dalam pengutaraannya. Bahasa Tiongkok sekarang ini kaku, kasar, dan kurang perasaan yang hangat dan ramah, kita sendiri sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini sehingga tidak merasakannya.

Suatu hari anak saya berkata pada saya,”Baju sudah kotor, cucikanlah untukku.” Mendengar kata-kata ini saya merasa sangat tidak nyaman, suara nadanya kasar, persis seperti ayahnya. Setelah saya pikir-pikir dengan teliti, saya pun merasa bahwa biasanya saya juga sering bicara blak-blakan, dan jarang sekali berbicara dengan lembut dan halus.

Di antara anak-anak sendiri, biasanya mereka juga saling berteriak, guru di sekolah juga lebih banyak menyampaikan kata-kata bernada perintah. Jadi bagaimana bisa menyalahkan anak-anak berbicara tidak sopan? Pada kesehariannya, ia sama sekali tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan santun, hanya meniru orang lain saja.

Saya memberitahunya bahwa nada bicaranya terlalu kaku, berbicara dengan orang yang lebih tua tidak seharusnya seperti itu, melainkan harus berkata : “Ma, bisakah minta tolong mencucikan baju saya ini?” Ia segera mengerti, dan langsung mengulangi sekali lagi. Saya jawab, “Lain kali kita saling mengawasi, harus bisa bersikap sopan pada siapa pun. Bisakah kamu membantu Mama, Nak?” Dengan gembira ia mengiyakan.

Sejak saat itu, jika saya menyuruhnya membantu, selalu ada kata-kata seperti : “Silahkan…” “Bolehkah…?” “Bisakah…?” dan “Terima kasih!” Meskipun sebagai orangtua, tidak perlu terlalu sopan menghadapi para anak muda, namun demi untuk membentuk suatu lingkungan yang berbahasa santun, saya sendiri harus memberi teladan.

Suatu ketika saya melihat posenya duduk menulis kurang benar meskipun sudah berkali-kali saya tegur beberapa kali, masih saja tidak diperhatikannya, saya lalu mengecamnya dengan suara keras. Sambil tertawa ia membalikkan badan berkata dengan lembut perlahan, “Ma, bisakah Mama berbicara dengan suara yang lembut?”

Melihatnya berbicara dengan sangat hati-hati dan serius, tak tertahankan lagi saya pun tertawa sambil berkata dengan perlahan juga, “Maafkan mama! Terima kasih atas peringatanmu. Jika kamu tidak bisa mengubah penyakit dudukmu itu, kamu akan membuat mama menjadi monster yang jahat nantinya!” Anak saya pun menjawab, “Maaf, ma! Saya pasti akan mengubahnya. Jika mama melihat saya seperti ini lagi, tolong diingatkan. Saya tidak akan merasa jengkel.”

Demikianlah, lambat laun nada bicara saya dan anak saya berubah menjadi sangat ramah, sangat jarang ada kata-kata yang bernada perintah atau memaksa, lebih banyak kata-kata yang bernada mengingatkan dengan maksud baik. Sudah barang tentu, saat ia berbicara dengan orang lain dia juga ikut berubah seperti orang yang menjadi lawan bicaranya, namun karena di dalam hatinya telah terbentuk standar yang baik, maka ia tidak lagi mengucapkan kata-kata yang mengandung kekerasan. Terutama jika ia berada di rumah, sudah tidak pernah lagi terdengar nada suara yang keras dan kasar.

Setelah ia masuk SD, suatu hari ia bercerita tentang pekan olahraga di sekolahnya pada saya, saat bahan pembicaraannya sampai pada tahap yang paling seru dan menggairahkan, tiba-tiba terlontar kata : “Busyet!” Firasat saya mengatakan bahwa kata ini adalah gubahan (plesetan) dari kata untuk memaki, saya lalu bertanya padanya apa arti kata tersebut.

Ia menjawab bahwa ia tidak tahu artinya, hanya saja pada saat bermain sepak bola, ia sering mendengar teman-temannya meneriakkan kata-kata itu. Saya katakan padanya bahwa itu adalah kata yang tidak baik, jangan diucapkan lagi. Ia berkata, “Sebenarnya aku juga tak ingin mengucapkan kata-kata itu, tapi entah kenapa bisa keluar begitu saja. Ketika ada orang memerlakukanku dengan sewenang-wenang, kata-kata kotor dari orang lain muncul begitu saja dan hampir saya ucapkan.”

Benar-benar seperti kata pepatah : ‘Siapa yang dekat merah akan menjadi merah, siapa yang dekat hitam akan menjadi hitam”. Jika di mana pun kita berada semuanya berkata seperti itu, saya juga tidak mungkin meniru Mengmu (cerita Tiongkok kuno yang memberi contoh cara mendidik anak) yang pindah rumah sampai 3 kali demi untuk mencari lingkungan yang baik bagi masa depan anaknya, bahkan mungkin setelah 3 kali pindah rumah pun percuma saja.

Lalu saya mengajarkannya, “Mama tidak mau kata-kata sampah itu, mama mau Sejati, Baik, Sabar.” Saya memberitahu dirinya untuk selalu mengucapkan kata-kata tersebut berulang-ulang kapan pun dia mendengar kata-kata kotor atau dalam benaknya terefleksi kata kotor-kotor, sebab kata “Sejati, Baik, Sabar” itu dapat menghilangkan kata-kata kotor yang berada di dalam benaknya. Maka dari itu, ia duduk tenang di sana sambil menghafalkan kata-kata itu dengan sungguh-sungguh.

Kata-kata ibarat cermin batin, kata-kata yang diucapkan anak kecil terlebih mencerminkan sikap orangtua mereka. Mengasuh jiwa dan raga kita sendiri, akan mencegah kita terkontaminasi dari masyarakat, barulah kita bisa membersihkan cermin pada diri anak-anak sampai mengkilap. (epochtimes/qin xin/lin/yant)

 

 

Source Article from http://erabaru.net/keluarga/tionghoa-mega-2/parenting/9153-kata-kata-bagaikan-cermin-batin

Bagi Anak, Manfaat Berkebun Sama dengan Berolahraga – Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta Sudah punya ide untuk mengisi akhir pekan atau libur Lebaran besok? Jika bingung untuk mengisi sisa hari libur ajak saja anak-anak berkebun. Meski membuat tubuh dan baju kotor, aktivitas berkebun bagi anak-anak sama dengan intensitas tinggi berolahraga. Kok bisa?

Hal ini diketahui lewat penelitian yang dilakukan peneliti Korea terhadap 17 anak-anak Korea Selatan dengan usia rata-rata 12 tahun. Intesitas fisik diukur dengan alat bernama telemetric calorimeters dan monitor detak jantung saat anak-anak terlibat dalam 10 kegiatan berkebun seperti menyiram, menggali, menabur benih, memanen, dan menyapu.

Anak-anak ini diberi waktu lima menit untuk setiap aktivitas di atas dan lima menit untuk istirahat. Mereka diminta untuk berkebun dalam dua kunjungan dan menyelesaikan lima tugas aktivitas berkebun di setiap kunjungan.

Seperti dilansir Huffington Post, Senin (21/7/2014) menyiangi, menabur benih, menanam, memanen menurut para ahli merupakan aktivitas fisik yang sedang. Berbeda dengan menyapu dan menggali yang masuk dalam olahraga berat.

Jadi, jika anak-anak malas berolahraga, mengajaknya berkebun bisa jadi cara ampuh untuk mendapatkan manfaat berolahraga.

Jangan hanya anak-anak saja yang berkebun, Anda sebagai orang dewasa juga memberi contoh. Menurut peneliti dari University of Utah orang dewasa yang aktif berkebun lebih kecil risikonya untuk kelebihan berat badan dibandingkan yang tak berkebun.

(Gabriel Abdi Susanto)

Source Article from http://health.liputan6.com/read/2081239/bagi-anak-manfaat-berkebun-sama-dengan-berolahraga

Mau, Busana Lebaran di Bawah Rp 100.000? – Tabloid Nova

BelowCepek reference Mau, Busana Lebaran di Bawah Rp 100.000?   Tabloid Nova

Riana Bismarak (tengah), founder BelowCepek, memamerkan koleksi terbaru busana dengan harga di bawah Rp 100.000. (FOTO: BELOWCEPEK)

TabloidNova.com
 - Menjelang Hari Raya Lebaran yang sudah tinggal beberapa hari, toko fashion online BelowCepek.com
  ternyata tetap buka. Anda masih dapat melakukan pemesanan barang, meskipun pengiriman barang baru diproses setelah Lebaran.

Dan, masih seperti biasanya, semua koleksi Ramadan
 toko online ini tetap dapat diperoleh dengan
 harga di bawah Rp 100.000
! Harga ini berlaku untuk semua lini busananya, dari atasan, bawahan, dress, outerwear
, busana ibu menyusui, dan busana muslimnya.

“BelowCepek tadinya enggak pernah bikin busana khusus untuk hijabers,
 karena sudah banyak toko online lain yang menyediakan busana untuk hijabers
. Tetapi ternyata selalu ada pelanggan yang meminta hijab look
. Katanya karena koleksi BelowCepek gampang banget untuk di-mix and match
 jadi busana hijaber
,” papar Riana Bismarak, CEO dan founder
 BelowCepek.com, saat berbuka bersama di Liberte Galeries Lafayette, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain busana kasual yang bisa dipadupadankan sehingga menjadi busana muslim yang tertutup, untuk Ramadan toko online yang sudah berusia 3 tahun ini juga menyediakan koleksi blus tunik dan gamis.

Menurut Riana, BelowCepek memang tidak sekadar menjual pakaian. Ia sering mengamati perilaku para pelanggannya (biasa disebut smart shopper
), yaitu orang-orang yang melek internet dan rata-rata suka gaya. Berbagai kategori dalam toko online ini, seperti Everyday Look, Party Look, Office Look, atau Hijabers Look, dibuat untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk tetap gaya di segala suasana.

“Itu semua hasil masukan dari pembaca. Sekarang perempuan kalau ke mal pasti niatnya mau beli baju kantor, untuk jalan-jalan saat weekend
, atau baju untuk pesta kawinan. Nah, BelowCepek idenya dari situ. Bentuk web-nya pun mengarah ke sana (memenuhi kebutuhan berbusana dalam segala suasana),” ujar Riana.

Untuk menyambut Ramadan, BelowCepek
 juga bekerjasama dengan komunitas Sembako Ramadan untuk menyediakan paket beramal sembako seharga Rp 99.000 untuk memudahkan pelanggan berbagi. Setelah pelanggan mentransfer sesuai nominal tersebut, BelowCepek akan menyalurkan paket sembako tersebut kepada mereka yang membutuhkan. 

BelowCepek juga bekerjasama dengan Senswell Parfum, yakni program bagi-bagi item parfum untuk kuis-kuis yang diadakan di akun social media
 milik BelowCepek. Karena, sekarang situs ini juga memiliki beberapa produk wewangian di kategori Beauty & Fragrance.

Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-3, Riana juga berencana meluncurkan facelift
situs BelowCepek.Com, pasca Lebaran nanti, lengkap dengan inovasi dan aplikasi barunya.

Dini Felicitas

Source Article from http://www.tabloidnova.com/Nova/News/Varia-Warta/Mau-Busana-Lebaran-di-Bawah-Rp-100.000