Baru Rasakan Dapat Uang setelah Lima Tahun – Jambi Ekspres

Baru Rasakan Dapat Uang setelah Lima Tahun

62books Baru Rasakan Dapat Uang setelah Lima Tahun   Jambi Ekspres

Perjalanan Ockto Ryanto Parlaungan Mengejar Cita-Cita Jadi Komikus

 Sebagai bagian dari industri kreatif, buku komik termasuk belum mendapat tempat yang  layak di tanah air. Meski demikian, sejumlah komikus lokal terus berjuang walaupun harus jatuh bangun menahan gempuran komik-komik asing. Salah satunya Ockto Baringbing.

 DIAN WAHYUDI, Jakarta

SAMBIL mengacungkan pedang di tangan kanan, Jenderal De Kock yang berada di atas benteng berteriak memerintah pasukannya untuk menembak. Moncong-moncong meriam yang sudah diarahkan ke sasaran seketika menyemburkan peluru-peluru berbentuk bola.” ” “”

 Di sisi berlawanan, Pangeran Diponegoro memberikan instruksi yang sama. Di atas kuda yang mengangkat dua kaki depannya, Diponegoro menyeru pasukannya untuk menyerbu. Keris di tangan kanannya diacungkan ke arah pasukan Belanda.”

 Perang sengit pun terjadi. Dari sisi kekuatan, tentu saja pasukan Belanda di atas angin. Banyak pasukan Pangeran Diponegoro yang berguguran karena terkena tembakan meriam dan senapan laras panjang tentara kolonial.”

 Namun, tiba-tiba ada pemandangan aneh. Di antara dua pasukan yang sedang bertempur dengan kekuatan yang tidak seimbang, ada lima anak siswa SMP yang panik dan bingung. Penampilan mereka tampak kontras. Model baju yang dikenakan berbeda dengan pakaian yang dikenakan pasukan Pangeran Diponegoro ataupun tentara Belanda. Mereka berpakaian layaknya anak sekarang yang sedang bermain.

 Lima anak itulah yang kemudian menjadi tokoh sentral komik Merdeka: Di Bukit Selarong karya Ockto Baringbing, komikus muda asal Jakarta, tersebut.”Cerita ber-setting situasi Perang Diponegoro (1826″1830), namun alurnya sedikit “menyimpang” dari perjalanan sejarah yang sebenarnya.

 Secara garis besar, lima murid SMP Sangsaka itu digambarkan melompat ke zaman perjuangan Pangeran Diponegoro setelah mendapat tugas membuat makalah dari gurunya.

 ”Saya ingin mengajak pembaca menengok kembali sejarah dengan cara yang lebih menarik. Caranya ya dengan komik Merdeka ini,” kata Ockto “Baringbing” Ryanto Parlaungan saat ditemui di rumahnya, Kampung Curug, Jakarta Timur, Senin (17/11).

 Komik dengan tema besar sejarah perjuangan Indonesia melawah penjajah tersebut merupakan salah satu karya awal pria kelahiran Jakarta itu. Komik tersebut dicetak pada 2009 dan dipasarkan secara luas.

 Perjalanan Ockto dalam berkarya tidak ditempuh dengan mudah. Jatuh bangun dirasakannya sejak kali pertama memutuskan menekuni dunia komik sesaat sebelum lulus kuliah.

 Berawal dari prestasi menjadi juara pertama Pekan Komik Nasional 2006 yang diadakan UK Petra, Surabaya, Ockto langsung menancapkan cita-cita untuk menempuh jalan sepi sebagai komikus. Bersama dua rekannya sesama mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITB, Bagus Seta dan Miftah Bayu, Ockto bertekad untuk tidak mencari pekerjaan dulu setelah lulus kuliah.

 Benar saja, setelah lulus pada 2007″2008, ketiganya kemudian berkonsentrasi menghasilkan karya-karya komik. Mereka menjadikan kamar Ockto sebagai semacam workshop. Mulai Senin hingga Jumat mereka bekerja keras di kamar yang dinding-dindingnya dipenuhi poster komik tersebut. “

 Ockto berperan sebagai penulis cerita dan membuat storyboard (alur cerita bergambar kasar). Sedangkan dua rekannya berperan sebagai ilustrator. “(Pekerjaan) itu kami jalani sekitar setahun. Sebagai anak-anak muda, kami sangat menggebu-gebu waktu itu,” kenang Ockto, lalu tertawa.

 Tantangan mulai mereka hadapi ketika memasuki proses publikasi karya. Beberapa penerbit yang selama ini aktif mencetak komik-komik lokal sedang berhenti produksi. “Industri komik Indonesia ketika itu sedang redup. Kami merasa seperti lulus kuliah di saat yang salah,” kata dia.

 Melihat kenyataan seperti itu, Ockto cs akhirnya mencoba jalur indie. Komik Merdeka dicetak dan diedarkan sendiri. Mereka hanya mencetak sedikit, 500 eksemplar. Tapi, pekerjaan tersebut menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Akibatnya, rencana penerbitan komik kedua terbengkalai.

 ”Jangan tanya balik modal atau tidak, karena sudah pasti tidak,” katanya sambil tersenyum.

 Selain Merdeka, ketika itu telah siap materi komik berjudul Bocah untuk dibukukan. Namun, karena berbagai keterbatasan, termasuk dana, Bocah belum bisa dicetak. Seperti Merdeka, komik kedua bercerita seputar dunia anak dalam berbagai sekuel, juga sepenuhnya ber-setting Indonesia. “”"

 Karena tidak tahu mau diapakan komik itu, Ockto dkk akhirnya iseng mengirim dua bab materi komik ke kompetisi yang diadakan salah satu penerbit di Jepang, Kodansha. Tanpa diduga, karya mereka masuk 20 besar di antara ribuan komik yang ikut. Namun, “prestasi” itu belum cukup untuk mengantar Bocah untuk naik cetak.

 ”Setelah sekitar setahun tak jelas, akhirnya kami sampai pada satu kesimpulan, mungkin belum waktunya,” kenang Ockto.

 Dari pelajaran itu, ketiganya mulai berpikir untuk mencari pekerjaan normal. Mereka lalu mengirim lamaran ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karyawan di bidang artistik. Ujung-ujungnya, Ockto sukses diterima di salah satu TV swasta nasional.

 Ketika Ockto akan menjalani karir baru di pertelevisian, tiba-tiba terdengar kabar bahwa penerbit Koloni mulai menerima kembali karya komik dari luar. Mereka pun langsung mengirim naskah jadi Bocah dan Merdeka ke Koloni. Mereka gembira bukan kepalang karena keduanya diterima. Bahkan, kerja sama itu berlanjut ke buku seri kedua.

 ”Tapi, empat (buku komik) itu belum ada duitnya. Balik modal saja nggak,” tutur Ockto.

 Meski seluruh biaya cetak ditanggung penerbit, penjualan komik mereka belum bisa menembus angka terendah pembagian royalti. “Kalau bukan passion, orang pasti sudah berhenti,” katanya.

 Berbeda dengan dua rekannya yang semakin serius menekuni pekerjaan masing-masing, Ockto masih asyik dengan gambar-gambar ceritanya. Meski tidak seaktif seperti ketika awal-awal lulus kuliah, dia masih berusaha mencari peluang untuk bisa kembali bangkit.

 Hingga akhirnya sekitar 2012 Ockto bertemu dengan salah satu penerbit online. Sang penerbit mengungkapkan ketertarikannya menerbitkan karya-karya komik Ockto. Terutama, karena tema yang tidak terkesan dipaksakan meniru komik mainstream Jepang untuk menarik pembaca.

 Semangat Ockto untuk menekuni dunia komik bangkit lagi. Namun, dia sudah kehilangan dua temannya yang memilih bidang pekerjaan lain. Dia pun mencari gantinya. Melalui media sosial Facebook, Ockto akhirnya bertemu dengan Muhammad Fathanatul Haq, komikus asal Jogjakarta. Keduanya lalu menjalin kerja sama.

 Seperti karya-karya sebelumnya, Ockto fokus di cerita hingga storyboard,  sedangkan Fathanatul Haq menangani gambarnya. Dari kerja sama keduanya, lahirlah kisah komik berjudul Lima Menit sebelum Tayang. Secara garis besar, komik itu bercerita tentang liku-liku seorang editor video, kamerawan, dan reporter saat mempersiapkan produk tayangan news.

 ”Komik itu berdasar kisah nyata yang pernah saya alami sebagai orang tivi,” ujar anak keempat di antara lima bersaudara tersebut.

 Tidak lama setelah komik itu jadi, Ockto mendapat informasi bahwa Kementerian Luar Negeri Jepang menggelar kompetisi komik internasional di luar komikus Jepang. Dia pun kemudian mengirim karya terakhirnya.

 Tak disangka, karya Ockto dan Fathanatul Haq berhasil menjadi pemenang di kompetisi bergengsi yang diikuti ratusan karya komik dari berbagai negara tersebut. Karya Ockto dan Fathanatul Haq meraih medali perak di ajang International Manga Award itu. Bersama peraih gold award  yang diraih komikus Thailand dan dua peraih silver award lainnya dari Thailand dan Tiongkok, Ockto diundang untuk menerima penghargaan tersebut di Jepang.

 ”Waktu itu cita-cita saya kembali melambung. Apalagi, komik Lima Menit sebelum Tayang akan dicetak di Jepang,” paparnya.

 Namun, ketangguhan Ockto kembali diuji. Penerbit terakhir yang menggandeng dia akhirnya juga gulung tikar karena sejumlah kendala internal. “Saya saat itu seperti jatuh dari titik atas ke titik paling bawah,” imbuhnya sambil kembali tersenyum.

 Untung, jatuh bangunnya Ockto dalam menekuni dunia komik relatif mendapat support dari keluarganya. Sebagai orang perantauan dari Batak, bapaknya sejak awal sudah mempersilakan anaknya menekuni dunia yang masih belum terang tersebut.

 ”Hanya ibu yang awalnya mempertanyakan, tapi kemudian menyerahkan keputusannya kepada saya. Paling yang masih sering ditanyakan, kapan nikah,” katanya, lalu tertawa. “

 Kebangkitan kembali Ockto seiring kelahiran majalah Re:On. Majalah tersebut khusus berisi karya-karya komik. Dari situ kemudian lahir karya terbarunya yang berjudul Galauman. Komik itu menceritakan keberadaan superhero lokal yang baru berubah menjadi pahlawan ketika dalam situasi galau.

 Majalah yang terbit tiap 5″6 minggu sekali itu sudah memasuki edisi ke-10 pada November 2014. Mereka terbit kali pertama pada Juli 2013. “Terus terang, baru sekarang saya merasakan dapat uang dari karya komik saya meski juga belum bisa jadi pegangan sepenuhnya,” ungkap Ockto.

(*/c10/ari)

BERITA TERKAIT :


adv Baru Rasakan Dapat Uang setelah Lima Tahun   Jambi Ekspres

0 Komentar :


Source Article from http://www.jambiekspres.co.id/berita-19226-baru-rasakan-dapat-uang-setelah-lima-tahun.html

Lima Pemuda Menggilir Gadis Tetangga – Pikiran Rakyat

perkosa Lima Pemuda Menggilir Gadis Tetangga   Pikiran Rakyat

CIMAHI, (PRLM).- Remaja perempuan, DM (15), asal Kampung Cicocok RT 3 RW 3 Desa Citatah Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat (KBB) diperkosa secara bergilir oleh 5 orang pemuda tetangganya usai dicekoki minuman keras oplosan. Tiga pelaku berhasil dibekuk jajaran Polsek Cipatat dan dua pelaku lainnya dalam perburuan karena melarikan diri.

“Tindak perkosaan oleh 5 pelaku terjadi setelah korban kehilangan kesadaran akibat dicekoki miras oplosan oleh para tersangka,” ujar Kapolres Cimahi, AKBP Erwin Kurniawan didampingi Kapolsek Cipatat Hendral Veno di Mapolres Cimahi Jln. Jend. Amir Mahmud Kota Cimahi, Selasa (25/1/2014).

Para pelaku bernama Sandi Apriansyah, Erwan Hermawan, Suryana alias Bocor, dan Gono serta Amal yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO). Kejadian pemerkosaan terjadi pada hari Senin (3/11/2014) malam. Saat itu, korban diajak tersangka Sandi dan dibawa ke pabrik sagiri, korban langsung dicekoki miras oplosan leci hingga mabuk dan sempat muntah-muntah.

Dalam kondisi tak sadar korban dibawa ke rumah pelaku Gono dan disetubuhi secara bergiliran di Kp. Ciwaru RT 6 RW 5 Desa Citatah Kecamatan Cipatat Kab. Bandung Barat.

Setelah pulang ke rumah, korban terlihat mengigau dan menimbulkan kecurigaan orangtua. “Setelah didesak, dia mengakui telah diperkosa oleh 5 pemuda sekaligus. Mengetahui hal itu, korban dan orangtuanya langsung melaporkan perbuatan para tersangka ke Polsek Cipatat,” ucapnya.

Laporan langsung ditindaklanjuti, personel Satreskrim Polsek Cipatat langsung menangkap 3 orang pelaku. Namun Dua pelaku lainnya melarikan diri dan dalam perburuan.

Akibat perbuatannya, para pelaku dijerat melakukan tindak pidana kejahatan terhadap kesopanan terhadap anak dibawah umur dan diganjar pasal 81 dan atau pasal 82 UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Barang bukti yang diamankan yaitu perangkat pakaian milik korban seperti kaos warna hitam, celana jins pendek, bra hitam, celana dalam putih, sepeda motor pelaku, kasur busa yang dipakai memperkosa, serta surat keterangan lahir korban karena tergolong usia anak.

Salah satu pelaku, Suryana, mengaku tega memperkosa DM karena tergiur kemolekan tubuh korban yang sudah dalam keadaan telanjang tanpa mengenakan sehelai pakaian pun di rumah Gono. “Setelah pulang dari acara ulang tahun teman, saya main ke rumah Gono. Lihat korban sudah enggak pakai baju, jadi saya ikut perkosa,” katanya.(Ririn NF/A-147)***

Source Article from http://www.pikiran-rakyat.com/node/306013

Jepang Ingin Kembali Jadi Produsen Robot Nomor 1 Dunia – Pikiran Rakyat

TOKYO,(PRLM).- Menjadi pelopor teknologi robot selama bertahun-tahun, kini, supremasi Jepang di bidang ini mendapat tantangan dari negara-negara saingan penghasil robot.

Pemerintah Jepang sedang menggelontorkan uang untuk mendapatkan kembali posisi itu guna memastikan era robot segera dimulai di negara ini.

‘Pepper’ adalah robot emo pertama di dunia dan merupakan lompatan besar dalam teknologi robot. Ia dapat membaca ekspresi wajah, nada suara dan bahasa tubuh dan kemudian merespon.

Di Omotosando, sebuah area perbelanjaan kelas atas di Tokyo, ‘Pepper’ bekerja di sebuah toko ponsel, melakukan riset pasar.

‘Pepper’ mengatakan ke seorang perempuan: “Anda sangat cantik – apakah orang lain sering mengatakannya kepada Anda? Sekarang giliran Anda untuk memuji saya! Apa pendapat Anda tentang wajah saya?!?.”

Dan ia kemudian bercanda dengan pelanggan laki-laki: “Jadi, Anda ingin menjadi ‘Pepper’? Nah Anda harus mencukur bulu dada dan melumuri cat putih di atas tubuh Anda dan kemudian menanggalkan pakaian Anda.”

‘Pepper’ dirancang untuk terlihat menggemaskan. Ia memiliki tinggi sekitar 120 sentimeter dan memiliki mata yang besar.

Dijual untuk umum dengan bandrol 2.000 dolar mulai tahun depan, ‘Pepper’ dipasti akan laku keras. Sebagai robot rumah tangga, ‘Pepper’ akan menyuci baju, menyedot debu dan semua tugas-tugas rutin dengan senyuman.

Tetapi industri dan PemerintahJepang memiliki rencana serius bagi ‘Pepper’ dan robot sepertinya. Mereka ingin membuat 30 juta robot ‘Pepper’ agar tercipta tenaga kerja yang bisa mengangkat Jepang sebagai produsen nomor satu dunia lagi.

Di pinggiran Tokyo berdiri pabrik masa depan Jepang, ‘Nextage’. Para robot mengendalikan lantai membuat ATM dan mesin penjual minuman atau makanan.

Mereka melakukan pekerjaan tiga manusia selama 24 jam sehari, mereka tidak mengambil izin sakit atau menderita kelelahan. Terdengar seperti seorang buruh yang sempurna bukan?.

Perusahaan tersebut menggunakan robot sehingga mereka bisa memiliki sumber tenaga kerja yang murah dan terpercaya di Jepang, dan memotong biaya operasional di luar negeri.

Manajer Nextage, Toshifumi Tsuji, mengatakan, produktivitas meningkat lima kali lipat sejak pabrik memperkenalkan robot tersebut, dua tahun lalu.

“Perusahaan-perusahaan yang ingin menggunakan jenis robot ini semakin bertambah, sehingga robot manusia ini akan terus berkembang, menjadi lebih cepat dan lebih efisien,” ungkapnya.

Para pekerja manusia di Nextage terlihat seperti asisten robot. Mereka bekerja untuk memastikan para robot memiliki segala yang mereka butuhkan agar bisa berfungsi dengan tepat.

Pekerja paruh waktu, Kimie Aoki, mengatakan, ia melihat robot sebagai rekan dan tidak terancam oleh kehadiran mereka.

“Robot memiliki kamera dan mereka bisa menemukan kerusakan yang sulit ditemukan bagi manusia. Saya pikir mereka membantu kita membuat produk yang lebih baik,” katanya. (abc/A-89)***

Source Article from http://www.pikiran-rakyat.com/node/305928

Jual Kaos Bayi Bertuliskan Pesan Pornografi, Perusahaan ini … – Detikcom

Jakarta – Toko retail online yang menjual pakaian bayi menuai kecaman karena menjual kaos bayi dengan slogan berbau pornografi. Produk kaos bayi tersebut dianggap sebagai barang yang menghina dan didesak diturunkan dari situs perusahaan itu.

Toko retail online itu menjual antara lain kaos bayi bertuliskan slogan bernada pornografi seperti “no gag reflex” ;menuai kecaman dari konsumen yang marah dan penentang yang mendesak agar barang-barang yang berbau penghinaan seperti itu disingkirkan dari situs perusahaan tersebut.

Gerakan penentang produk ini yang bermarkas di Australia, Collective Shout, yang membantu keberhasilan penggalangan petisi menyingkirkan gelar kontroversial artis Julien Blanc, kini juga ikut menyuarakan desakan dilarangnya peredaran kaos bayi dan anak dari situs CafePress berbasis di Amerika Serikat.

Laman situs perusahaan itu menampilkan alas dada dan baju terusan anak dengan sablon slogan dibagian dada bertuliskan antara lain pesan “No my mummy doesn’t like it in the a**, I’m here aren’t I” and “Retired XXL Porn Star”.

Produk tersebut memicu kemarahan dan protes di sosial media pekan lalu ketika juru kampanye mendesak agar CafePress diboikot. Akun Facebook dan twitter CafePress juga dibombardir dengan komentar bernada marah dari publik menyusul sikap pengelola perusahaan itu yang menolak menyingkirkan barang dagangannya tersebut dari website.

Dalam pernyataannya kepada ABC, CafePress mengatakan pihaknya mendorong konsumen untuk memberitahun mereka jika mereka melihat ada muatan di laman akun mereka yang melanggar kebijakan perusahaannya.

“Dengan sangat menyesal, untuk saat ini muatan di situs kami hanya menampilkan sejumlah produk, seperti barang kebutuhan bayi dan anak, dan itu bukan merupakan barang yang ;memicu keberatan dalam kategori produk dewasa, “kata perusahaan itu.

(nwk/nwk)


e488f6f5bbba5969daeb1aebea0eb7842 Jual Kaos Bayi Bertuliskan Pesan Pornografi, Perusahaan ini ...   Detikcom
 Jual Kaos Bayi Bertuliskan Pesan Pornografi, Perusahaan ini ...   Detikcom


04279dce2e20c809d99eeeca7e06d512 Jual Kaos Bayi Bertuliskan Pesan Pornografi, Perusahaan ini ...   Detikcom

 Jual Kaos Bayi Bertuliskan Pesan Pornografi, Perusahaan ini ...   Detikcom


Source Article from http://news.detik.com/read/2014/11/24/193618/2757846/1513/jual-kaos-bayi-bertuliskan-pesan-pornografi-perusahaan-ini-dikecam-di-sosmed?9922032

Jual Kaos Bayi Bertuliskan Pesan Pornografi, Perusahaan ini … – Radio Australia

Toko retail online itu menjual antara lain kaos bayi bertuliskan slogan bernada pornografi seperti “no gag reflex”  menuai kecaman dari konsumen yang marah dan penentang yang mendesak agar barang-barang yang berbau penghinaan seperti itu disingkirkan dari situs perusahaan tersebut.

Gerakan penentang produk ini yang bermarkas di Australia, Collective Shout, yang membantu keberhasilan penggalangan petisi menyingkirkan gelar kontroversial artis Julien Blanc, kini juga ikut menyuarakan desakan dilarangnya peredaran kaos bayi dan anak dari situs CafePress berbasis di Amerika Serikat.

Laman situs perusahaan itu menampilkan alas dada dan baju terusan anak dengan sablon slogan dibagian dada bertuliskan antara lain pesan “No my mummy doesn’t like it in the a**, I’m here aren’t I” and “Retired XXL Porn Star”.

Produk tersebut memicu kemarahan dan protes di sosial media pekan lalu ketika juru kampanye mendesak agar CafePress diboikot. Akun Facebook dan twitter CafePress juga dibombardir dengan komentar bernada marah dari publik menyusul sikap pengelola perusahaan itu yang menolak menyingkirkan barang dagangannya tersebut dari website.

Dalam pernyataannya kepada ABC, CafePress mengatakan pihaknya mendorong konsumen untuk memberitahun mereka jika mereka melihat ada muatan di laman akun mereka yang melanggar kebijakan perusahaannya.

“Dengan sangat menyesal, untuk saat ini muatan di situs kami hanya menampilkan sejumlah produk, seperti barang kebutuhan bayi dan anak, dan itu bukan merupakan barang yang memicu keberatan dalam kategori produk dewasa, “kata perusahaan itu.

Source Article from http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2014-11-24/jual-kaos-bayi-bertuliskan-pesan-pornografi-perusahaan-ini-dikecam-di-sosmed/1392641

Hilangnya Pakaian Sipil Lengkap – KOMPAS.com


KOMPAS.com
 — Sejak Joko Widodo dan Jusuf Kalla menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI, busana kerja sehari-hari dan bepergian, termasuk ke luar negeri, juga berbeda. Jika 10 tahun sebelumnya pakaian sehari-hari di Istana didominasi safari atau setelan jas, hal itu kini berubah total.

Kini, hilanglah kewajiban dan kebiasaan menggunakan pakaian sipil lengkap atau kerap disebut PSL bagi pejabat. Tak hanya di lingkungan Istana Kepresidenan atau di Istana Wapres, tetapi juga di kementerian, bahkan juga mungkin menjalar ke daerah-daerah.

Selain baju putih yang digulung di lengan, kini di lingkungan Istana dan kementerian juga populer baju batik lengan panjang. Memang, Jokowi sudah menggunakan baju putih yang digulung atau baju kotak-kotak merah saat kampanye Pemilu Presiden 2014 pada 9 Juli lalu. Demikian pula Kalla sudah memilih baju putih saat kampanye lalu.

Saat pengumuman kabinet pada Minggu (26/10/2014), sesuai namanya Kabinet Kerja, Jokowi-Kalla memopulerkan baju putih lengan panjang, yang lengannya digulung. Baju putih dengan lengan digulung pun dikaitkan dengan simbol orang yang bekerja dan selalu bergerak.

Namun, saat pelantikan kabinet di Istana Negara, Senin (27/10), Presiden dan Wapres beserta para menteri yang dilantik pun tak lagi menggunakan setelan jas hitam atau PSL, yang selama ini digunakan pada acara-acara resmi.

Angin segar

Saat lawatan selama 16 hari ke Beijing (Tiongkok), Myanmar, dan Brisbane (Australia), dua pekan lalu, Jokowi memang seperti ingin membawa angin perubahan dalam kunjungan luar negerinya yang perdana itu.

Pada kunjungan itu, ia memakai batik lengan panjang warna cokelat muda, bermotif parang. PSL yang selalu menjadi kewajiban siapa pun jika mengikuti rombongan presiden sebelumnya, kini ditanggalkan.

Alhasil, hampir semua anggota rombongan di pesawat kepresidenan yang ikut Jokowi menyesuaikan diri dengan menggunakan kemeja batik. Mulai dari menteri, anggota Pasukan Pengamanan Presiden dan perangkat presiden, hingga wartawan. Padahal, biasanya, wartawan pun mengenakan jas. Hanya ajudan presiden dan ajudan istri presiden, serta kru pesawat, yang tetap mengenakan seragam militer.

Para pejabat yang mengantar keberangkatan Presiden di Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma waktu itu pun ikut mengenakan batik, mulai dari Wapres hingga Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta, yang kini menjadi Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama.

Saat tiba di Bandar Udara Internasional Capital Beijing, meskipun cuaca cukup dingin atau sekitar 4 derajat celsius, Jokowi yang turun dari pesawat kepresidenan juga masih mengenakan batik. Ibu Negara Iriana Jokowi yang mendampinginya juga tetap mengenakan kebaya yang dipadu dengan kain batik bermotif senada dengan kemeja suaminya.

Sebelum menjabat presiden RI, tepatnya saat menghadiri peringatan Hari Batik di Pasaraya Jakarta, 2 Oktober silam, Jokowi mengaku lebih suka mengenakan batik ketimbang jas. Waktu itu, ia sudah memiliki ide untuk membuat kebijakan agar pejabat negara lebih sering berbatik ria daripada berjas.

Kini, karena Jokowi-Kalla selalu berbaju putih atau berbatik ria, perangkat presiden pun selain berbaju putih juga berbatik. Sangat jarang ditemui mereka mengenakan jas. (Wahyu Haryo/Suhartono)

Source Article from http://nasional.kompas.com/read/2014/11/24/11450081/Hilangnya.Pakaian.Sipil.Lengkap

Namira Boutique, Baju Model Up to Date – Radar Pekalongan Online

Namira Boutique Namira Boutique, Baju Model Up to Date   Radar Pekalongan Online

PRODUK – Karyawan setempat saat menunjukkan salah satu koleksi pakaian wanita di outletnya.
AKHMAD TAUFIK / RADAR PEKALONGAN

MEDONO – Bagi wanita yang menginginkan pakaian dengan model-model yang bagus Namira Boutique mungkin bisa menjadi alternatif pilihan dalam mencari pakaian. Outlet yang berada di Jalan Urip Sumoharjo nomor 86 menawarkan pakaian wanita seperti baju atasan, dress, gamis, baju muslim, kerudung, jam tangan, sandal, sepatu, dan bermacam aksesoris seperti cincin, gelang, bross, kalung, juga ikat pinggang.

Sang pemilik, Risla (26) menuturkan dirinya memilih bisnis fashion karena hobinya. “Karena saya suka fashion, dan pengen punya toko fashion sendiri ya akhirnya buka boutique,” katanya. Sementara untuk nama tokonya sendiri ia pun menjelaskan, “Dulu sewaktu orang tua pergi ke Aceh, melihat masjid yang indah sekali dan besar bernama Namiroh, dari hal tersebut maka boutique kami ini diberi nama Namira supaya nantinya bagus dan berkembang menjadi besar,” jelas Risla.

Sementara produk fashion yang disediakannya mengenai harga tergantung dari jenisnya tak beda jauh dengan outlet-outlet lainnya. “Harga yang kami tawarkan tak jauh beda dengan yang lain tetapi bagi kami kualitas nomor 1,” imbuhnya.

Ditambahkannya, produknya didatangkan langsung dari Jakarta dan Bandung namun pihaknya juga mendatangkan produknya dari suplayer asal Bangkok, “Disini lokal atau impor semuanya ada,” tambahnya.

Usaha yang dirintis sejak tahun 2009 lalu tetap menawarkan berbagai kelebihan antara lain produknya merupakan barang limited edition, lebih lengkap khususnya untuk aksesoris, dan juga harga yang kompetitif. “Lebih lengkap apalagi untuk aksesoris, kami mengunggulkan tas-tas impor dan untuk dress juga, dan produk tertentu akan kami berikan diskon sampai 25%,” pungkasnya. (ap7)

Penulis: Akhmad Taufik | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

99 total views, 99 views today

Source Article from http://www.radarpekalonganonline.com/51113/namira-boutique-baju-model-up-to-date/

Tradisi Henna pada Pengantin – Kabar Indonesia

KabarIndonesiaBetapa bahagianya jika sang calon pengantin wanita dapat tampil secantik mungkin di acara pernikahannya. Oleh sebab itu, banyak yang perlu disiapkan, seperti baju pengantin yang indah, wajah yang bersih dan terawat, dan make up yang menarik.

Tak luput juga dari perhatian, mereka menghias lengan, tangan, dan kaki dengan berhenna. Ya, henna atau inai sejak dulu sudah digemari oleh kaum wanita, khususnya calon pengantin.

Henna, semacam daun yang berbentuk oval berukuran sekitar 3-4 inci  yang berada pada tumbuhan semak di daerah tropis ini sudah dipakai untuk kosmetik dan menghias diri kaum wanita mesir kuno.

Daun sederhana yang memilki warna khas seperti merah marun, cokelat, dan jingga ini juga menjadi sebuah ritual wajib calon pengantin wanita sebelum pernikahan di dunia.

Di India, henna dikenal sebagai mehdi. Mehndi merupakan salah satu cara menghias diri selain make up dan baju pengantin.  Pesta mehndi dilakukan tiga atau empat hari sebelum pernikahan yang diselenggarakan oleh kerabat dan keluarga calon pengantin. Tangan dan kaki mempelai perempuan dihiasi  mehndi dengan beragam corak yang indah dan rumit. Nama mempelai laki-laki pun juga diselipkan dalam corak yang beragam itu. Terkadang henna juga dipakai oleh para mempelai pria di India. Pada saat sebelum pernikahan dimulai, pengantin pria pun menebak bagian corak mana yang terselip namanya pada henna mempelai wanita.

Selain India, Afrika dan Asia bahkan Amerika juga menerapkan tradisi henna untuk mempelai pengantin. Henna dikenakan untuk menghias kuku, tangan dan juga kaki mempelai agar terhindar dari roh-roh jahat yang menganggu.

Negara kita, Indonesia pun tak luput dari tradisi henna atau masyarakat Indonesia sering menyebutnya pacar, untuk si calon pengantin. Namun, bentuk henna di Indonesia dahulu tidak menarik dan berbentuk cantik seperti di negara lain. Henna di Indonesia bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat yang akan menganggu sang mempelai. 

Henna banyak dijadikan tradisi adat oleh masyarakat di Pulau Sumatera, Sulawesi, dan NTB. Tradisi apa saja yang dilakukan mempelai pengantin saat berhenna di daerahnya?

Peta Kapanca, acara yang berasal dari Bima, yaitu dengan memakai pacar atau henna kepada calon pengantin wanita. Pemakaian henna pun dilakukan serentak oleh tujuh ibu-ibu dan disaksikan oleh tamu wanita pada malam sebelum pernikahan. Tentunya henna mempunyai simbol agar mengingatkan calon pengantin bahwa dia akan menjadi calon istri.

Lain halnya dengan tradisi henna di pulau Sumatera. Di Aceh, Lampung dan Minangkabau, mempunyai adat tersendiri yaitu malam bainai. Pengantin wanita dipakaikan inai oleh orang yang dituakan atau keluarga sehari sebelum pernikahan. Daun pacar yang sudah dilepaskan dari batangnya di tumbuk dan di oleskan pada tangan sang mempelai. Warna merah dari daun inai dipercaya untuk mengusir roh-roh jahat dan memiliki kekuatan magis untuk memberi kesuburan bagi calon mempelai wanita.

Uniknya pada masyarakat Riau, inai dipakaikan oleh kedua mempelai. Daun inai dipakaikan kepada kedua calon pengantin malam hari sebelum pernikahan. Tujuan diadakan upacara ini untuk menolak bala dan melindungi pasangan pengantin dari marabahaya, juga dapat memunculkan aura dan cahaya calon pengantin. Bagi calon pengantin pria, inai dapat memunculkan sifat wibawa.

Orang-orang yang punya kedudukan sosial yang baik serta memilki rumah tangga yang bahagia diminta untuk meletakkan daun pacar ke tangan calon mempelai pada tradisi Mapacci masyarakat Bugis, Makassar. Ritual ini dilakukan di rumah masing-masing mempelai pada hari menjelang pernikahan. Daun pacar memilki sifat magis dan melambangkan kesucian bagi para mempelai.

Seiring dengan berkembangan zaman, henna di Indonesia pun mengikuti corak negara lain karena permintaan pasar yang kuat.

Henna atau inai yang menghiasi tangan dan kaki calon pengantin ini bukan lagi pada acara adat, melainkan hanya sebagai pelengkap. Masyarakat modern bahkan menggunakan henna selain kepada calon pengantin. Anak-anak dan remaja pun sudah banyak menggunakan henna.

Toko yang menjual jasa membuat henna kini sudah menjamur di dunia. Di indonesia, paket pernikahan melukis henna calon pengantin pun beragam dari desain yang simpel hingga yang sulit sekalipun. Mereka juga menjual jasa panggilan ke rumah atau ke kantor. Harga yang ditawar pun kian terjangkau.

Hal itu menjadi sangat menarik karena di Indonesia banyak artis dan desainer terkenal yang menggunakan henna pada acara tertentu atau acara pernikahannya. Selain itu, henna hanya bersifat sementara, sehingga kaum wanita dapat bergani-ganti desain dengan beragam corak henna yang lainnya. Tinta henna yang menyerap ke dalam kulit dan kuku juga tidak menghalangi jalan air yang masuk ketika bersuci bagi umat Islam.(*)

Blog: http://www.pewarta.kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): 
redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini.  Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

Source Article from http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Tradisi+Henna+pada+Pengantin&dn=20141119235305

Sejenak "Menikmati" Rumah Aman Yayasan Embun Surabaya – JPNN.com





Membantu tidak harus menunggu mampu. Prinsip itu dipegang teguh aktivis Yayasan Embun Surabaya. Mereka menciptakan suasana kekeluargaan bagi yang tidak punya keluarga meski terkadang harus utang kepada penjual sayur keliling.


Laporan Eko Priyono, Surabaya


HUJAN lebat yang turun Selasa malam lalu (18/11) membuat tiga perempuan dan empat pria semburat. Bak petugas pemadam kebakaran, mereka langsung berebut mengambil belasan kain bekas yang tertumpuk di sudut rumah. Dengan gerakan kilat nan gesit, kain itu dibeber di depan ruang kamar yang basah.


Tangisan dua balita yang melengking karena terkejut semakin membuat suasana panik. Ternyata, tangisan itu menjadi penanda bahwa kamar tidurnya basah karena rembesan air hujan. ”Siap-siap meluap, Mas. Di sini ada selokan,” kata Bintang Ramadan sambil menunjuk ke lantai yang tertutup plastik.


Pria yang akrab disapa Dodon itu merupakan salah seorang di antara enam orang aktivis yang menjaga rumah aman Yayasan Embun Surabaya. Rumah di kawasan Surabaya Utara tersebut menjadi tempat persembunyian para korban kekerasan seksual yang tidak punya tempat berteduh.


Di lembaga yang didirikan pada Januari 2013 itu, Dodon tidak sendirian. Ada juga aktivis lain seperti Rendra Oktavian, Herman, Junasri Agus, Rasti Ari Anggraeni, dan Joris Lato. Secara bergantian, mereka menjaga rumah yang kini menjadi tempat persembunyian para korban kekerasan.


Jangan dibayangkan, rumah aman tampak megah, tersembunyi, dipenuhi fasilitas, dan berpenjaga. Sebaliknya, dari luar kondisinya tampak seperti rumah penduduk pada umumnya. Meski dijuluki rumah aman, pintu gerbang selalu terbuka. Siapa pun yang masuk ke rumah tersebut dipastikan langsung diketahui penghuninya. Pintu gerbang besi yang sudah berkarat selalu mengeluarkan bunyi ketika dibuka.


Rumah supersederhana itu terdiri atas empat kamar tidur. Ukurannya tidak lebih dari 2×3 meter persegi. Satu di antaranya dibikin kantor sekaligus tempat tidur serta untuk menyimpan baju para aktivis. Tiga kamar lainnya dipakai tidur 13 penghuni yang sedang menjalani pemulihan di rumah aman. Tidak ada ranjang. Kasur terhampar di lantai hingga hampir memenuhi ruangan.


Usia 13 penghuni warga dampingan beragam. Lima perempuan sudah dewasa serta dua anak di bawah umur yang usianya 14 dan 17 tahun. Salah satunya adalah siswi SD yang diperkosa bapak kandung dan guru sekolahnya. Yang berusia 17 tahun adalah korban kekerasan seksual yang baru ditangani tiga hari ini.


Selain itu, ada enam balita. Tiga di antaranya tidak memiliki bapak. Mereka dilahirkan dari rahim korban trafficking yang hamil meski saat itu masih berusia 17 tahun. Tiga balita lainnya adalah anak seorang ibu yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.


Para penghuni itu memiliki latar belakang yang beragam. Misalnya, Ayu (nama samaran) yang datang ke Embun ketika masih kelas XII SMA. Dia hamil ketika berpacaran. Pacarnya tidak mau bertanggung jawab dan memaksa Ayu untuk menggugurkannya. Khawatir kehilangan sang pacar, korban menurutinya.


Setelah digugurkan, Ayu hamil lagi dengan orang yang sama. Pacarnya langsung kabur. Perempuan yang tinggal di panti asuhan sejak usia delapan tahun itu tidak lagi memiliki tempat tinggal. Ibunya meninggal, si bapak tidak diketahui rimbanya. Dia akhirnya diantar seorang temannya ke Kantor Yayasan Embun.


Lain lagi Maya (nama samaran). Perempuan 17 tahun tersebut juga menjadi korban trafficking. Setelah proses hukum selesai, Maya dipulangkan ke kampung halamannya di sebuah kabupaten sisi barat Jatim. Tidak lama setelah itu, siswi protholan sebuah SMA tersebut hamil. Nahas, ibu kandung Maya tidak mau menerimanya lagi.


Berbekal sisa uang yang dimiliki, dia membuka internet dan mendapati website Yayasan Embun. Dari informasi itulah, dia mendatangi alamat tersebut ketika kandungan berusia empat bulan. ”Anakku seperti aku. Enggak ada bapak,” ucap Maya dengan nada lirih yang membuat miris. Kini anaknya berusia tiga tahun dan tinggal di rumah aman Yayasan Embun.


Bagi enam aktivis pendamping para korban tersebut, 13 orang itu adalah anggota keluarga. Perhatian yang diberikan pun layaknya di keluarga sendiri. Ada aturan tidak tertulis yang berlaku setiap hari.


Misalnya, urusan masak-memasak. Para korban yang semuanya perempuan memasak secara bergantian. Awalnya, mereka tidak terbiasa memasak. Bahkan, hampir tidak ada yang bisa memasak. Dodon akhirnya turun tangan. Dia mulai membiasakan mengajak mereka memasak.


Meski berbadan tinggi besar dan berwajah sangar, Dodon malah paling jago memasak. Dia yang mengajari semua korban mengolah aneka ragam masakan. Usut punya usut, dia lulusan perhotelan sebuah kampus di Surabaya. ”Ilmunya dipakai di sini,” ucap finalis Cak dan Ning 2003 itu.


Untuk membeli bahan masakan, para aktivis itu iuran. Biasanya, lauk dan sayuran dibeli dari pedagang keliling. Penyebabnya bukan lebih murah. Tapi, mereka bisa ngebon lantaran tidak selalu ada uang yang cukup untuk membeli bahan masakan. Utang dibayar ketika sudah ada uang dengan selisih harga yang masih terjangkau.


Keseharian pendamping dan korban memang terlihat kontras. Bisa dibayangkan, sebagian besar pendamping adalah laki-laki. Tapi, semua korban adalah perempuan. Mau tidak mau, mereka diharuskan memahami dunia keperempuanan. Termasuk memahami perasaan mereka.


Ketika ada yang hamil, semua penghuni memberikan dukungan dan perhatian penuh. Bahkan, ada terapi khusus yang tidak didapati di tempat lain. Khusus ibu hamil setiap hari harus mengepel lantai dengan menggunakan tangan sembari jongkok. ”Itu terapi biar mudah melahirkan,” ucap Rendra. Cara itu sudah dibuktikan belasan perempuan hamil.


Lain lagi anak-anak yang masih sekolah. Setiap hari mereka diharuskan belajar minimal dua jam. Pendamping selalu memastikan mereka belajar setiap hari. Tujuannya, anak-anak tidak berhenti belajar meski hanya sebentar. Para aktivis itu yang mendampingi secara bergantian.


Semua perempuan di sana awalnya adalah korban. Tapi, saat ini tiga orang menjadi pendamping bagi korban yang lain. Mereka belajar dengan cara melihat aktivitas yayasan tersebut dalam menangani para korban. Mulai ikut rapat, belajar mengetik, hingga sekarang aktif mendampingi para korban.


Berbagai kejadian unik mewarnai kehidupan di sana. Rendra menceritakan, pernah ada perempuan hamil yang hampir melahirkan. Ketika dilihat, sudah bukaan pertama. Tapi, ketika dibawa ke rumah sakit, dia tidak kunjung melahirkan. Ternyata, jabang bayi itu baru lahir sebulan kemudian.


Ada juga korban yang datang ke rumah aman dan mengaku mengandung. Perutnya yang membuncit semakin menguatkan bahwa dia memang sedang mengandung. Nana (nama samaran) pun mendapat perhatian khusus agar merasa nyaman sehingga tidak mengganggu kesehatan. Setiap bulan remaja 17 tahun itu diperiksakan ke puskesmas. ”Bidan selalu bilang, bayinya sehat,” ucap Dodon yang mendampinginya ketika memeriksakan kandungan.


Suatu ketika, Dodon dibuat sangat ketakutan karena korban mengeluarkan darah setelah motor yang dipakai memboncengkan Nana melewati polisi tidur. Nana yang mengeluh kesakitan diduga keguguran. Nana dibawa ke sebuah klinik di Dupak, tapi petugas medis angkat tangan karena menganggap kondisinya kritis.


Nana diboyong ke Rumah Sakit Haji dengan menggunakan ambulans. Tapi, karena saat itu tidak ada uang sama sekali, Nana dipindahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara. Padahal, Nana sudah masuk ke UGD. ”Saya lebih baik mati daripada ditusuk-tusuk seperti ini,” ucap Dodon menirukan keluhan Nana.


Dari pemeriksaan itulah, kebohongan terungkap. Nana ternyata tidak hamil. Perutnya yang membuncit bukan karena mengandung. Darah yang keluar disebabkan bekas penguretan yang tidak bersih. Padahal, Nana diperlakukan seperti orang hamil selama tiga bulan.


Dodon bahkan pernah kena damprat petugas puskesmas. Sebab, setiap bulan dia memeriksakan perempuan hamil yang berbeda-beda. Perawat itu mengira pria 31 tahun tersebut pria hidung belang yang gemar menghamili perempuan. ”Sampeyan itu lanang tuek enggak tahu diri,” ucap Dodon menirukan.


Joris Lato, aktivis lainnya, menyebut bahwa dirinya menghadapi masalah terkait dengan identitas kependudukan para korban. Sebab, keluarga mereka tidak jelas. Mengurus identitas mereka di kampung asal tidak memungkinkan. Padahal, identitas menjadi syarat mutlak untuk bisa eksis. ”Mereka harus bisa mandiri biar tidak lagi jadi korban,” ucapnya. (*/c6/dos)





Source Article from http://www.jpnn.com/read/2014/11/21/271105/Sejenak-Menikmati-Rumah-Aman-Yayasan-Embun-Surabaya-

Tiap Bulan Batik Senopati Sediakan Motif Baru – Radar Pekalongan Online

Batik Senopati Jalan Karya Bakti nomor 117 Medono Tiap Bulan Batik Senopati Sediakan Motif Baru   Radar Pekalongan Online

PRODUK – Owner Batik Senopati saat menunjukan koleksi terbaru di boutiquenya.
AKHMAD TAUFIK / RADAR PEKALONGAN

MEDONO – Batik Senopati di Jalan Karya Bakti nomor 117 Medono Pekalongan menawarkan bermacam baju batik khususnya untuk kantoran dengan model-model yang update. Produk-produk yang ditawarkan di outlet ini merupakan pakaian batik khusus untuk kantor seperti guru, pegawai pemerintah, serta pegawai instansi lainnya. Sementara untuk jenisnya mulai dari batik cap, batik printing, batik tenun, termasuk juga batik tulis. Yang membuat beda dengan yang lain yakni di Batik Senopati ini model atau motif setiap bulannya pasti ada yang baru.

Owner Batik Senopati, Amalia Utami (38) mengatakan outletnya ini memang khusus menyediakan pakaian kantor berupa batik,”Kami memang hanya menyediakan batik khusus untuk kantoran saja atau baju kerja, terutama untuk kaum wanita. Bahkan di toko kami ini 80%nya pakaian wanita sedangkan untuk pria hanya 20%nya saja,” jelasnya.

Pihaknya menambahkan bahwa usahanya tersebut sudah ada sejak 6 tahun yang lalu, yang berawal dari usaha rumahan,”Untuk usaha ini sudah 6 tahunan yang lalu, dulu kami belum ada toko masih dirumahan, Awalnya kami ikut pameran di Jakarta saat itu di Tamrin City, saat pameran produk kami ternyata banyak peminatnya sehingga dengan segala usaha kami membuka outlet disana dan alhamdulilah bisa terlaksana. Jadi di Pekalongan kami buka outlet sebenarnya masih baru sekitar 8 bulanan,” ungkapnya.

Pihaknya menyatakan pemasaran produk lebih ke kalangan menengah ke atas, karena diakuinya harganya memang cukup tinggi dibanding dengan outlet lain. Dengan alasan, hal tersebut tiap produknya diproduksi sendiri dengan jahitan berkualitas,”Untuk harga memang lumayan, karena penjahit kami bukan dari konveksi melainkan penjahit yang profesional, jadi meskipun harga lumayan tinggi tetapi kualitas juga tinggi,” tambahnya.

Ditambahkan, bahwa pihaknya memiliki keunggulan seperti model yang selalu update, elegan, dan model bervariatif serta sangat cocok digunakan oleh orang perkantoran, “Kelebihan kami model produknya bagus-bagus selalu update dan banyak variasinya serta pasaran kami memang kalangan menengah ke atas,” katanya. Pihaknya juga mengatakan bahwa bagi semua klienya tak perlu takut baju yang dipakai nantinya akan ada yang pakai juga kerana menurutnya untuk setiap baju yang dibuat 1 motifnya paling hanya 5 baju itupun beda warna. “Tak perlu khawatir kami tetap menjaga kualitas, setiap motif yang kami buat maksimal 5 baju itupun pasti warnanya beda semua,” pungkasnya. (ap7)

Penulis: Akhmad Taufik | Radar Pekalongan
Redaktur: Dalal Muslimin

70 total views, 70 views today

Source Article from http://www.radarpekalonganonline.com/50971/tiap-bulan-batik-senopati-sediakan-motif-baru/