Sebelum Bertemu Media, CEO Twitter Mampir ke Fasilkom UI – Tekno Liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta – Siang ini, Kamis (26/3/2015), Twitter menggelar acara media oundtable dengan para wartawan di Indonesia yang bertempat di Hotel Shangri-La Jakarta. CEO Twitter, Dick Costolo dijadwalkan akan hadir dalam acara tersebut.  

Namun sebelum bertemu para awak media, Dick menyempatkan diri lebih dulu untuk menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Pertemuan hanya berlangsung sekitar setengah jam. Dalam pertemuan itu Dick menyampaikan sektor bisnis Twitter di Indonesia.  

Usai bertemu JK, Dick ternyata berkunjung ke Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UI. Lewat tweet yang diposting Director of Public Policy, Australia & SE Asia at Twitter –Julie Inman Gran — Dick memperkenalkan program #Twitter4WaniTek fellowship untuk menjaring lebih banyak wanita muda Indonesia untuk belajar komputer sains. Dick memakai jas berwarna krem dipadu kemeja biru tua. 

Sementara itu menurut pantauan tim Tekno Liputan6.com di Hotel Shangri-La, Dick hingga siang ini belum terlihat ‘batang hidungnya’. Baru Rick Mulia saja, Country Business Head Twitter Indonesia, yang terlihat. Rick datang menggunakan baju batik bernuansa coklat.

Rencananya Dick akan menyampaikan rencana Twitter di Indonesia siang ini kepada para awak media. Dan nanti malam Dick juga akan bertemu dengan Menkominfo Rudiantara.

Twitter sendiri sudah buka kantor di Jakarta. Kantor Twitter di Indonesia berlokasi di One Pafisic Place lantai 15 di area SCBD Sudirman. Kantor Twitter di Indonesia ini akan menjadi kantor keenam di Asia Pasifik. Saat ini Twitter juga sudah memiliki kantor di Seoul, Tokyo dan Sydney.

Dengan dibukanya kantor di Jakarta, Twitter berharap layanannya lebih berguna dan relevan bagi masyarakat Indonesia untuk menemukan konten yang tepat, serta berhubungan dengan orang lain dan mengekspresikan diri di Twitter.

(dew)

Source Article from http://tekno.liputan6.com/read/2197308/sebelum-bertemu-media-ceo-twitter-mampir-ke-fasilkom-ui

Dari Bermodal Rp100 Juta Kini Beromzet Rp10 Miliar – SINDOnews.com

Bisnis Produk di Online

Koran SINDO

Kamis,  26 Maret 2015  −  12:54 WIB

dari bermodal rp100 juta kini beromzet rp10 miliar 8WD Dari Bermodal Rp100 Juta Kini Beromzet Rp10 Miliar   SINDOnews.com

SURABAYABisnis onlinemenjadi daya tarik bagi usaha kecil dan menegah untuk mendapatkan tambahan. Bisnis ini diprediksi bakal mengalami peningkatan karena tidak membutuhkan biaya besar.

BelowCepek.com, salah satu usaha onlineyang dijalan Riana Bismarak menjadi salah satu contoh. Dengan bermodalkan Rp100 juta, perempuan yang juga menjabat CEO & Founder BelowCepek.Com menularkan ilmunya dalam menjalankan bisnis di dunia maya. Dalam bisnis ini, produk yang dijual berupa baju, aksesori, tas, dan sepatu wanita. Bisnis ini berjalan sekitar 4 tahun.

Dari data yang dimiliki pembeli barang di Below Cepek.Com berasal dari wanita sekitar 90% dan 10% pria. Pembeli wanita mengikuti tren dan perkembangan fashion modern, sedangkan pembeli pria membeli barang untuk usaha dan membelikan hadiah bagi orang yang disayangi. Online ini memiliki perbedaan dengan onlinelain. Jika onlinelain menjual produk semua dari negara apa pun, BelowCepek.Com ini khusus menjual produk dalam negeri.

Artinya, semua karya anak bangsa dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar di nusantara. “Produk yang kami jual asli dari dalam negeri,” ujar Riana, kemarin. Untuk memenuhi konsumen, Riana yang pernah bekerja sebagai marketingpariwisata di salah satu perusahaan mengaku, menggandeng UKMUKM di Jakarta, Tangerang, Yogyakarta, dan Bali.

Ada sekitar 70 UKM yang menyuplai onlineini, barangnya akan dikirim ke seluruh pelosok daerah. Bisnis ini mengalami perkembangan karena market shareyang dibidik jelas, wanita dengan usia 19 tahun hingga 45 tahun. Mereka merupakan penggila tren baju atau pekerja yang ingin mengikuti gaya hidup lebih trendi.

“Pemasaran yang kami kembangkan melalui BBM (BleckBerry Messenger), Wahtshaap, Line, dan Kakao Talk, selain di Facebook dan laman milik kami sendiri,” ujar dia. Pengembangan bisnis ini cukup menjanjikan karena penjualannya mengalami peningkatan. Selama ini penjualan yang dilakukan ada 1.000 jenis setiap bulan dan tahun ini target penjualan sekitar Rp10.000 setiap bulan dengan omzet sekitar Rp10 miliar.

Untuk memutuskan terjun ke dunia maya, Riana harus berkorban kesenangan. Saat itu dia mengaku akan berbulan madu dengan uang Rp100 juta. Namun, niatnya diurungkan karena ada ide membuka bisnis baju online. Dana sebesar Rp100 juta dipergunakan untuk membuka usaha melalui online,mulai dari membuat laman hingga memesan barangbarang yang akan dijual.

Bisnis ini, ungkap dia, tidak membutuhkan tenaga banyak. Saat ini ada delapan tenaga yang dipekerjakan, sedangkan sisanya memakai tenaga sewaan. Hal ini membuat efisien dalam pengeluaran keuangan. Sementara produk yang dijual berasal dari kerja sama UKM yang membuat baju khusus Indonesia.

Untuk mencari UKM yang mau bekerja sama awalnya sangat sulit. Wanita murah senyum ini menceritakan harus mendatangi satu per satu UKM yang mau bekerja sama. Dengan tekat dan kemauan sehingga berhasil mendirikan bisnis onlineyang bisa menguasai pasar di daerah-daerah, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bali.

Surabaya menjadi kota kedua setelah Jakarta yang memiliki peminat terbanyak untuk membeli produk ini. Bahkan, ada beberapa investor menawari untuk mendirikan toko di Surabaya karena dinilai prospeknya menjanjikan. Namun, tawaran itu ditolak lantaran bisnisnya masih terfokus untuk jual-beli melalui online. Selain itu, alasan lain penolakan karena berkaitan dengan permodalan.

Menurut Riana, jika dirinya memutuskan mendirikan toko di Surabaya, budgetyang dikeluarkan akan bertambah. Bahkan, ciri khas penjualan baju dibawah Rp100.000 juga akan hilang. Karena pihaknya akan mempertahankan penjualan dibawah Rp100.000 sesuai dengan nama tokonya.

Toko ini memiliki konsep smart shopperyang menyajikan dua tipe lokasi utama, yakni office lookyang merupakan koleksi fashionableuntuk busana kerja dengan pilihan beragam yang menambah kepercayaan diri bagi wanita Indonesia, kemudian smart and casual, yakni koleksi untuk busana seharihari yang nyaman dan cocok dengan iklim Indonesia.

Arief Ardliyanto

(bhr)

views: 706x

Source Article from http://www.koran-sindo.com/read/981591/151/dari-bermodal-rp100-juta-kini-beromzet-rp10-miliar-1427349206

Eksplorasi Kain melalui Teknik Celup Ikat – SINDOnews.com

Kreasi Fashion

Koran SINDO

Kamis,  26 Maret 2015  −  12:20 WIB

eksplorasi kain melalui teknik celup ikat QAt Eksplorasi Kain melalui Teknik Celup Ikat   SINDOnews.com

BANTULDitangan seorang seniman, selembar kain bisa menjadi sebuah karya yang menarik. Sama seperti yang dilakukan oleh Caroline Rika Winata seorang seniman kain lulusan Jurusan Seni Rupa I SI Yogyakarta ini.

Seniman yang gemar melakukan eksperimen pada kain bisa menyulap selembar kain menjadi sebuah karya seni yang menarik . Meski memilih jurusan seni rupa namun rasa penasaran dan keingintahuannya yang tinggi pada objek kain membuatnya memilih menekuni dunia celup ikat sejak 2008. Celup ikat memang tidak sepopuler batik yang teknik pewarnaan dan pengerjaannya banyak diketahui masyarakat luas.

Tak banyak orang tahu bahwa teknik celup ikat adalah teknik pewarnaan kain yang paling dasar dan paling primitif. Dengan teknik ini satu kain dapat berevolusi menjadi beragam warna. Pewarnaan kain menggunakan teknik ini banyak ditemui di Jepang, India, dan Afrika. Celup ikat adalah proses pewarnaan kain dengan cara menahan warna masuk ke kain dengan cara diikat.

Proses pengikatan biasanya menggunakan bambu. “Dari dulu tidak tahu kenapa saya gemar sekali mengkreasikan kain. Sampai akhirnya saya memilih celup ikat karena keunikannya. Hasil akhir dari celup ikat ini lebih ekspresif dan warna yang dihasilkan lebih unpredictable. Saya juga kerap menemukan motif baru dari efek-efek warna yang keluar dari proses celup ikat ini,” kata Caroline ketika ditemui di area workshop miliknya di Jalan Sonosewu, K asihan, Bantul, kemarin.

Kegemaran mengeksplorasi kain, membuatnya memilih membuat bisnis clothing dengan bahan kain celup ikat dengan Brand Wiru yang telah digelutinya selama lima tahun ini.  Caroline banyak membuat selendang dan baju-baju handmade dari kain celup ikat. Beberapa kain miliknya juga kerap dipesan desainer-desainer Jakarta untuk kebutuhan fashion show.

Tak hanya desainer beberapa desainer interior juga kerap memesan kain celup ikat milik wanita kelahiran Bandung ini. Dalam waktu satu bulan, dia dapat memproduksi 200 meter kain. Harga kain per meter dibanderol Rp75.000. Proses pembuatan kain diawali dengan membersihkan kain terlebih dahulu kemudian direndam selama satu malam.

Kemudian kain dilipat-lipat (dijumput) dan diwarnai. Proses pewarnaan memakan waktu satu hari, satu warna satu kali pencelupan, kemudian dikeringkan. Proses paling lama adalah membuat jumputan, karena harus diikat kecil-kecil agar menghasilkan paduan warna yang maksimal.

“Kain ini memang tidak saya produksi secara massal karena semua proses pembuatan dilakukan dengan cara handmade. Harga per meternya juga terbilang tidak murah karena saya membuat desain kain dengan warna yang eksklusif,” paparnya. Sari, salah satu pelanggan kain celup ikat Wiru mengatakan, dia kerap membeli kain Wiru karena suka dengan motif dan warnanya yang unik.

Gadis pencinta kain tradisional ini senang menggunakan pakaian yang terbuat dari kain-kain tradisional. “Saya memang suka memadupadankan pakaian modern dan tradisional. Salah satu kain yang biasa saya modifikasi dengan baju-baju modern adalah kain Wiru ini, karena memiliki paduan warna yang beda dengan kain lainnya,” tuturnya.  

Windy Anggraina

(bhr)

views: 135x

Source Article from http://www.koran-sindo.com/read/981571/151/eksplorasi-kain-melalui-teknik-celup-ikat-1427347119

Mahasiswa FKM Pakai Baju Curian – Fajar

FAJARONLINE, MAKASSAR - Oknum mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) salah satu perguruan tinggi terkenal di Makassar, Baktiar harus rela digelandang di kantor Polsekta Panakkukang. Baktiar ketahuan mencuri pakaian di salah satu toko di Jalan Pengayoman. Modus pencurian dengan cara berlagak sebagai pembeli di toko itu.

Dia kemudian mengambil satu baju. Dalam mengelabui petugas toko, dia membuka baju yang dikenakannya dan diganti dengan baju curian. Namun petugas curiga dengan gerak geriknya. Apalagi baju yang dikenakannya berbeda dengan baju saat dia masuk ke toko. Petugas kemudian datang dan mengambil Bahtiar. Bahtiar tak berkutik karena toko itu merekam tindakannya. (int)

Source Article from http://fajar.co.id/fajaronline-sulsel/2015/03/25/mahasiswa-fkm-pakai-baju-curian.html

Krisdayanti Cium Kaki Ibu pada Hari Ultah – Kaltim Post



’’Suami dan anak-anak saya semalam tidur jam 11. Jadi, saya bisa salat dan merenungi diri,” tutur Yanti, sapaan Krisdayanti, di kediamannya, kawasan Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Seusai salat, dia bergegas ke kamar ibunya dan mencium kaki perempuan yang telah melahirkannya itu. Dia berterima kasih dan meminta maaf belum bisa membalas semua kebaikan ibunya.


Ulang tahun ke-40 mantan istri Anang Hermansyah itu kemarin dirayakan dengan sederhana. Siang Yanti menggelar pengajian. Suasana khusyuk terasa dari dalam rumah dua lantai tersebut. Tamu datang silih berganti ke acara yang sengaja disiapkan suaminya, Raul Lemos, sebagai hadiah untuk istrinya itu. Saudara dan kerabat terus berdatangan. ’’Nggak ada kejutan. Saya mengucapkan selamat ulang tahun juga baru pagi tadi,” ujar Raul.


Dia menceritakan, kemarin pagi dirinya memangku istrinya dan berdoa bersama. Raul sangat bersyukur mendapatkan istri secantik Yanti. Apalagi semakin hari dia merasa istrinya kian dewasa dan bijak. Dia sangat membanggakan sang istri karena bisa aktif bekerja, tapi tidak membiarkan anak-anaknya telantar. ”Semoga lima tahun lagi bisa ini (menyentuh kerudung Yanti),” harapnya.


Dalam pesta ulang tahun bernuansa putih dan kuning itu, terlihat Yuni Shara yang sesekali mengobrol dengan adiknya. Yuni mengatakan sempat khawatir adiknya itu lupa diri saat karirnya gemilang beberapa waktu lalu. Dia melihat Yanti sangat dipuja-puja dan bergelimang barang-barang mahal. Tapi, kekhawatiran tersebut sirna saat melihat adiknya yang kini jauh lebih tenang.


’’Ada yang bilang live begin in 40. Tapi, saya melihat Yanti tenang sejak sebelum usia 40. Sejak menikah, dia jadi lebih tenang,” tutur Yuni tentang adiknya. Kemarin Yanti, Raul, dan dua anak mereka kompak mengenakan baju kuning. Sementara itu, Yuni Shara dan ibunya mengenakan gamis putih. Dua warna tersebut sengaja dipilih sebagai simbol. Dia percaya bahwa putih adalah lambang kesucian, sedangkan kuning melambangkan kebahagiaan.


Pemilihan warna itu juga menjadi doanya pada hari ulang tahun. Dia berharap terus diberi kesehatan dan menjadi orang yang semakin dekat dengan Tuhan. Dia juga berdoa agar selalu diberi kelapangan hati untuk menghadapi semua masalah yang datang kepadanya. ’’Saya suka galau kalau jauh dari suami,’’ ungkapnya, lalu tersenyum. (jpc)

Source Article from http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/138757-krisdayanti-cium-kaki-ibu-pada-hari-ultah.html

Kaftan Rancangan Pengusaha Travel Memukau London – Tempo.co

TEMPO.CO, London – Anniesa Hasibuan memukau sekitar seribu undangan dan pengunjung Westfield, mal besar di London Barat, saat menampilkan sepuluh gaun dalam “Kaftan Festival”. Peragaan busana muslimah pada Sabtu, 21 Maret 2015, siang waktu setempat itu dihelat Women’s Growth & Success Foundation, perkumpulan perempuan profesional muslim di ibu kota Inggris yang misinya mempromosikan wajah Islam ramah bagi masyarakat Eropa.

Ada sepuluh perancang gaun muslimah yang tampil dalam peragaan yang dibagi dalam tiga sesi itu. Mereka perancang dari Kuwait, Saudi Arabia, Palestina, Yaman, Libanon, Qatar, dan Indonesia. Hanya Anniesa yang baru kali itu tampil memamerkan karyanya. “Pekerjaan inti saya pengusaha travel,” kata perempuan 28 tahun yang tinggal di Sentul, Jawa Barat, itu.

Anniesa bercerita ia nekat menyanggupi tawaran panitia memamerkan pakaian muslimah rancangannya meski waktu persiapan hanya sebulan. “Saya suka menggambar desain sejak kecil dan membuat pakaian untuk keluarga dan kenalan,” katanya.

Ia bahkan tak mengeyam studi sekolah desain. Anniesa drop-out dari Jurusan Akuntansi Universitas Indonesia di semester tiga pada 2008 karena tak punya uang. Usaha ayahnya, Azwidarsyah Hasibuan, di bidang batu bara bangkrut sebelum meninggal di tahun yang sama. Lulusan SMA Kartika Sari Lenteng Agung ini menikah dengan Andika Surachman, temannya di SMP 8 Depok yang berdagang pulsa untuk mencukupi kebutuhan kuliahnya di Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Bersama Andika, Anniesa lalu merintis usaha perjalanan umroh pada 2008. Kini First Travel telah memberangkatan setidaknya 70.000 jamaah. Andika mendorong istrinya mengembangkan bakat desain dan menjadikannya bisnis.

Dua tahun lalu ketika sedang liburan di London mereka bertemu Usya Suharjono, orang Indonesia yang 30 tahun tinggal di negeri Ratu Elizabeth itu sebagai pemilik restoran Nusa Dua. Usya penyelenggara “Hallo Indonesia” di Trafalgar Square sehingga kenal pejabat London dan banyak organisasi di sana, seperti Women’s Growth yang didirikan dan dipimpin Zainab Al Immam asal Saudi Arabia, pemilik jaringan usaha A&Z.

Pakaian yang ditampilkan Anniesa beda dibandingkan dengan busana desainer Timur Tengah yang lebih terbuka. Rancangan Anniesa berbahan beludru, satin, dengan payet dari kerudung hingga mata kaki dipadu dengan batik. “Saya tampilkan ini karena Timur Tengah itu kan kesannya glamor,” katanya.

Di sesi akhir, karena sambutan meriah penonton untuk rancangan Anniesa, ia yang awalnya tampil di urutan 8 digeser menjadi penutup. Seusai acara, stand-nya diserbu pengunjung yang bertanya dan berniat membeli baju-bajunya.

Anniesa mematok satu gaun di stand 1.000 pounds atau Rp 20 juta. Sementara untuk gaun yang ditampilkan di catwalk harganya Rp 50 juta. “Tadi ada yang menawar tapi saya tak beri karena mau saya taruh di museum butik saya,” katanya. “Yang memesan mesti menunggu sebulan.”

Selepas acara, stasiun televisi dari Kuwait dan Yaman antri mewawancarainya. Mereka bertanya seputar inspirasi Anniesa merancang gaun-gaunnya. “Setelah London sudah ada yang menawari pameran di Dubai,” katanya. “Saya tak menyangka mendapat sambutan seperti ini.”

BAGJA HIDAYAT (LONDON)

Source Article from http://www.tempo.co/read/news/2015/03/24/110652570/Kaftan-Rancangan-Pengusaha-Travel-Memukau-London

Mahasiswa Indonesia Jadi Host di TV Tiongkok – Okezone

TIONGKOK - Ada banyak cara mahasiswa Indonesia melewatkan libur selama musim dingin di Tiongkok. Mulai dari berwisata, main ke rumah teman lokal atau malah pulang ke Indonesia. Namun, berbeda dengan Muhammad Nurckhalik Djirimu, mahasiswa asal Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang tengah menempuh studi Magister Hubungan Internasional di Nanchang University, kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, Tiongkok. Dia melewatkannya dengan menjadi bintang tamu di sebuah acara reality show stasiun TV lokal, Jiangxi TV 2 (JXTV 2). Stasiun TV terbesar dan terpopuler di Provinsi Jiangxi ini memiliki lima saluran atau channel.

Melalui seleksi dari internal kampus, dia dan Nigara (mahasiswi asal Turkmenistan) berhasil lolos dan direkomendasikan oleh pihak kampus untuk mengisi salah satu program Jiangxi TV 2 “Bagaimana Orang Asing Merayakan Imlek”. Dari rencana awal, Ckhalik dan Nigara hanya diberi kesempatan untuk mengisi satu episode yaitu episode pertama. Kemudian seterusnya akan diisi oleh mahasiswa asing di kampus lain di Provinsi Jiangxi secara bergantian sesuai jadwal yang telah ditentukan. Tapi karena mendapat respons positif dari penonton dan kru Jiangxi TV saat penayangan perdana program tersebut, mereka akhirnya berlanjut mengisi episode-episode berikutnya.

“Nigara, mahasiswi cantik dan juga seorang penari yang menguasai semua tarian tradisional suku Han Tiongkok, serta Ckhalik, aktif dan memiliki pengetahuan yang luas tentang sejarah dan budaya Tiongkok membuat kami sangat terkejut. Berawal dari situ kami akhirnya memutuskan menambah episode untuk mereka,” ungkap He Nu Shi, salah seorang kru Jiangxi TV 2.

Salah seorang staf di Internatioal Exchange College Nanchang University, Tuna Laoshi, menjelaskan, Ckhalik dan Nigara dipilih berdasarkan aktivitas dan prestasinya. “Berkat keaktifannya mengikuti dan meraih predikat Juara II lomba Chinese Bridge se-Sulawesi saat di Indonesia, serta Chinese Speech Competition dan Chinese Songs Competition saat menempuh studi di Universitas Nanchang, Ckhalik kami rekomendasikan untuk menjadi bintang tamu di acara tersebut. Sedangkan Nigara, pernah menjuarai Chinese Competition Jiangxi Province,” ujar Laoshi.

Ckhalik bercerita, sejauh ini telah mengisi lima episode. Episode pertama, diambil saat hari pertama masyarakat Tiongkok merayakan Imlek dengan mengambil latar belakang kehidupan dan aktivitas apa yang dilakukan oleh orang asing saat Imlek tiba. Episode kedua, dia dan Nigara dibawa diperkenalkan ke sebuah keluarga Tiongkok di pusat Kota Nanchang untuk merasakan bagaimana hidup bersama dalam suasana Imlek, mereka pun dianggap seperti anggota keluarga.

Episode ketiga, mengambil latar belakang suasana pedesaan yang sangat meriah dengan kembang api dan bunyi petasan di mana-mana. Orang-orang saling mengunjungi satu sama lain, baik kerabat maupun tetangga, makan bersama dan menonton pertunjukan tradisional.

Episode keempat, Ckhalik dan Nigara menuju sebuah desa Wuyuan yang sangat terkenal se-Tiongkok dengan julukan “Zhong Guo Zui Mei de Xiang Cun” (desa paling cantik di Tiongkok), berlatar belakang padang bunga yang mekar hanya di musim semi. Mereka diliput dan diajari bagaimana membuat kue tradisional, tarian tradisional di sebuah panggung teater desa dan ditonton oleh para wisatawan lokal dan mancanegara.

Di episode kelima, bersama kru TV, mereka menuju ke Kota Jiujiang, kota yang jaraknya sekitar tiga jam dengan naik mobil dari Kota Nanchang. Namun di episode terakhir ini, Nigara digantikan oleh Jumhur (mahasiswi asal Bangladesh) karena sedang tidak sehat.

Di Kota Jiujiang mereka diajari Chang Xi yakni seni drama opera lokal, yang menyerupai Beijing Opera yang terkenal seantero dunia. Mereka diajar langsung oleh master opera. Ckhalik dan Jumhur diberi tantangan oleh kru TV untuk memandu acara sebagai host tanpa teks.Tanpa menyia-nyiakannya, Ckhalik langsung mewawancarai para artis opera yang terkenal itu. Kemampuan bahasa Mandarin mereka diuji namun ternyata kedua mahasiswa asing ini dapat melakukan tugas sebagai host dengan cukup lancar.

“Selama mengikuti acara tersebut, merupakan sesuatu pengalaman yang sangat berharga dan sulit untuk dilupakan,” ungkap Ckhalik, yang merupakan alumnus HI Universitas Hasanuddin, Makassar itu.

Menurut Ckhalik, bukan karena bisa tampil secara pribadi, akan tetapi dia sekaligus bangga bisa mengenalkan budaya Indonesia secara langsung yang ditonton banyak orang dengan mengenakan atribut khas Indonesia seperti baju batik, sarung khas tradisional Buton dan memakai Udeng, ikat kepala khas pulau Bali. Apalagi saat di lokasi syuting banyak yang bertanya-tanya baju batik dan sarung lembut khas Buton itu. Dan Ckhalik pun menjawab dalam bahasa Mandarin, “Ya, ini dari Indonesia!”

Berita Kiriman:

Ummy Fadhilah

Mahasiswa Magister Chinese Literature

Nanchang University

Kampus Okezone menerima kiriman berita seputar kegiatan kampus, artikel opini, foto dan karya lainnya dari civitas akademika. Karya haruslah asli, bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasikan di media lain. Kirimkan karya beserta identitas dan foto pendukung ke alamat kampus.okezone@mncgroup.com.

Source Article from http://news.okezone.com/read/2015/03/24/65/1123435/mahasiswa-indonesia-jadi-host-di-tv-tiongkok

Senang pakai batik, Aura Kasih dapat inspirasi busana nikah? – merdeka.com

<!–
POLLING PEMBACA : PARTAI PEMILU | CALON PRESIDEN

–>

Merdeka.com – Penampilan Aura Kasih terlihat berbeda ketika mengisi sebuah acara Wedding Exhibition lalu. Dara cantik itu memakai busana batik yang membuatnya semakin terlihat anggun.

Aura Kasih sendiri ternyata merasa sangat senang dengan berpenampilan ala putri Indonesia tersebut. Hal itu diungkapkannya ketika ditemui dalam sebuah kesempatan di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan pada (22/3).

“Aku senang banget apalagi tema Indonesia. Karena wedding tradisional ya, pakai batik, senang banget,” ujar pelantun lagu Mari Bercinta tersebut.


aura kasih 20150322 016 agus Senang pakai batik, Aura Kasih dapat inspirasi busana nikah?   merdeka.com

Bukan hanya merasa senang, memakai batik kebaya lengkap dengan sanggul dianggapnya mampu membangkitkan inner beauty seseorang. Alasan itulah yang membuatnya excited banget dengan penampilannya kali ini.

“Pasti ya. Karena aku sanggulan, full make-up sama pakai kebaya. Aku memang nyaman pakai baju batik atau yang tradisional ya aku suka banget dan inner beauty-nya bakal keluar sendiri,” ujar Aura Kasih.

Namun, penampilan anggunnya kali ini sepertinya belum menjadi sebuah inspirasi untuk pernikahannya kelak. “Yang pasti aku memang suka baju-baju tradisional. Batik suka banget. Kalau terinspirasi belum tahu ya. Nikahnya aja juga belum tahu kapan,” pungkas artis yang dikabarkan dekat dengan Glenn Fredly tersebut.


(kpl/rhm/abl)



paging prev content Senang pakai batik, Aura Kasih dapat inspirasi busana nikah?   merdeka.com Senang pakai batik, Aura Kasih dapat inspirasi busana nikah?   merdeka.com

 Senang pakai batik, Aura Kasih dapat inspirasi busana nikah?   merdeka.com

paging next content Senang pakai batik, Aura Kasih dapat inspirasi busana nikah?   merdeka.com



Source Article from http://www.merdeka.com/artis/senang-pakai-batik-aura-kasih-dapat-inspirasi-busana-nikah.html